Home / MAF / Tekad Warga Kokap Makin Mantap

Tekad Warga Kokap Makin Mantap

 “Bakor PKP…” Teriakan pendek itu, datang dari Ketua Umum Bakor PKP, Drs. H. Agus Riyanto saat memandu yel-yel baru Bakor PKP. Lalu terdengar sahutan, “Guyub, Peduli, Handarbeni…”

Dan, rapat Bakor PKP yang digelar Minggu, 17 Februari 2019, pukul 10.00 – 14.00 WIB di SMP PB Sudirman, Cijantung, Pasar Rebu dimulai. Berlangsung khidmat, efektif dan menghasilkan  banyak butir kesepakatan.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum Bakor PKP, Drs. H. Agus Riyanto, M.Pd, hadir sebanyak 18 orang, terdiri dari elemen Pengurus Bakor PKP, Perwakilan Paguyuban Desa dan Alumni anggota Bakor PKP dan perwakilan dari warga perantau Desa Hargotirto, Hargomulyo, Hargowilis, dan Hargorejo. Karena suatu hal, perwakilan dari Desa Kalirejo tidak bisa hadir.

“Sebagai komitmen bersama dalam Raker Bakor PKP, 22-23 September 2018 di Wisma Bahtera, Cipayung Puncak lalu, yel-yel Bakor PKP adalah Guyub, Peduli dan Handarmeni. Yel-yel ini adalah spirit abadi yang merupakan muara sekaligus motivasi bagi setiap gerak dan langkah kegiatan Bakor PKP,”  jelas Pak Ketum tentang yel-yel Bakor PKP.

Rapat dipimpin oleh Ir. Sukardi Karso, Ketua I Bakor PKP. Diawali dengan pengarahan oleh Ketua Umum, kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh Agus Triantara, Sekum Bakor PKP.

“Agenda kita ke depan pertama, Sarasehan Warga Kokap di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jalan Raya Pasar Minggu. Waktu dan tempat belum bisa dipastikan, oleh karenanya kami harus segera bersurat kepada Ketua Umum TP PKK Pusat, Ibu Tjahjo Kumolo dan  Dirjen Bina Pemdes, Kementerian Dalam Negeri,” kata Agus Tri mengawali diskusi.

Para tokoh PKK  Pusat, tambahnya, sudah memahami maksud dan tujuan kita, kemudian berkenan mendukung gerakan ini. “Kita baru bisa bertanya dan mohon arahan, kapan acara sarasehan akan kita selenggarakan. Target kita dari sarasehan adalah komitmen Kemendagri dan TP PKK Pusat mendukung gagasan Kokap khususnya dan Kulon Progo pada umumnya sebagai lokasi percontohan Tradisi Minum Rempah Merah sebagai solusi efektif menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba dan gagal paham terhadap ideologi bangsa,”  jelasnya.

Agenda berikutnya, atau kedua, menurut Agus Tri, adalah HUT Bakor PKP yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 20 April. Sebagaimana dijelaskan oleh Pak Ketum, Kaperda DIY sudah menyiapkan satu paket Campursari, tinggal bagaimana mengembangkannya dari kegiatan ini.

Agus Tri menyampaikan pemikirannya, bahwa HUT Bakor PKP nanti akan dikemas dalam sebuah rangkaian Tradisi Minum Rempah Merah dengan yang di Hargorejo. Satu event (20/4) Tradisi Minum Rempah Merah di Anjungan DIY, dengan mengundang 33 kantor penghubung provinsi seluruh Indonesia di Jakarta, Kementerian terkait, dan 3-4 kali event Tradisi Minum Rempah Merah di Desa Hargorejo.

“Saya berharap, mulai saat ini kita mengurangi budaya mengedarkan proposal kepada pribadi-pribadi. Kita harus mulai belajar mencari sumber-sumber pendanaan dari sponsor. Pengalaman mendapat sponsor dari BPJS Ketenagakerjaan pada April 2018 lalu, menjadi pelajaran dan motivasi yang sangat berharga. Oleh karenanya, mari kita mulai mengidentifikasi link-link sponsor yang bisa kita garap. Begitu sudah dapat gambaran sumber pendanaan dari sponsor, kita segera bergerak dan bentuk kepanitaan teknis,”  lanjut Agus Tri.

Sebagai konseptor, Agus Tri tidak ingin terjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Oleh karenanya, Agus Tri tidak akan melangkah lebih jauh kalau warga Kokap tidak punya komitmen sebagai aktor perubahan khususnya di wilayahnya.

“Saya ingin mendengarkan komitmen dari Bapak dan ibu 4 desa yang hadir terhadap langkah  yang semakin kongkret dan tak terbendung lagi ini. Desa Kalirejo sekalipun tidak hadir, sudah menyatakan komitmennya saat kami berkoordinasi beberapa waktu yang lalu di Taman Mini. Hari ini saya ingin sekali lagi komitmen dari Bapak dan Ibu sekalian,”  tegasnya.

“Tradisi Minum Rempah Merah akan menjadi sebuah magnet wisata baru di Kulon Progo yang berbasis pada tradisi atau budaya. Oleh karenanya dengan kehadiran bandara Internasional di tahun ini, Kulon Progo akan menjadi sangat strategis bilamana memiliki sesuatu yang unik. Saya sangat prihatin kalau Kulon Progo nanti hanya sebagai tempat turunnya penumpang, seperti kasus di bandara Kualanamu, Sumatera Utara,”  jelas Sugeng, Bendahara I Bakor PKP yang berasal dari Desa Hargotirto.

Usai pembulatan komitmen warga Kokap yang semakin mantab, Agus Tri berharap, komitmen Warga Kecamatan Kokap sebagai lokasi pilot atau lokasi model Gerakan Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah, bisa dibuktikan pada saat HUT Bakor PKP 20 April 2019 dan Nyadran Agung, tangal 27 April 2019. “Hadirkan sebanyak mungkin warga Kokap di kedua event itu,”  harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, disepakati bahwa keberangkatan masing-masing desa akan dikoordinasikan lebih kongkret oleh masing-masing desa. Diharapkan pula agar masing-masing paguyuban perantau berkoordinasi dengan Kadesnya tentang bagaimana keberangkatan Kades, Ketua TP PKK, Ketua Karang Taruna, Ketua BPD dan Ketua LPMD ke Jakarta. Untuk penginapan di Jakarta, serta konsumsi di Kemendagri, nanti akan dipikirkan bersama.

Yang akan membedakan dengan Nyadran Agung selama 15 tahun sebelumnya, dengan Nyadran Agung 2019 besuk, untuk pertama kali Nyadran Agung akan diwarnai dengan persembahan tanda tresna warga Kokap kepada kampung halamannya. Secara simbolik, Ketua Tim Penyangga Gerakan Sesaba Kulon Progo Kecamatan Kokap di Jakarta akan mempersembahkan bola kepada warga desa di 5 desa. Bola ini mengandung makna ganda, yaitu sebagai perlambang bulatnya tekad warga Kokap mendukung Program Kerja Bakor PKP yang dikemas dalam sebuah Gerakan Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah. Sekaligus sebagai perlambang bulatnya tekad kepedulian warga perantau terhadap kampung halamannya.

“Bola adalah tema dari fokus kegiatan yang mendapat perhatian tahun ini. Bisa saja kita gaungkan dengan slogan : Dengan Bola, Kita Bikin Warga Desa Bahagia. Tahun depan kita akan beralih ke tema lain dalam mendorong pembinaan di bidang lain !”, jelas Agus Tri lebih lanjut.

Kabar gembira yang perlu didukung oleh semua pihak, disampaikan oleh Saroji, perwakilan dari Desa Hargomulyo. “Kami akan mempersembahkan satu paket wayang kulit untuk warga kami di Hargomulyo. Rencana akan kami selenggarakan pada tangal 4 Syawal. Dan bagaimana pelaksanaannya, kami siap mendukung sosialisasi tradisi Minum Rempah Merah melalui wayang tersebut,” jelas  Saroji, koordinator Warga Hargomulyo.

Sebelum acara berakhir dan ditutup dengan closing statement Ketua Umum pada pukul 14.00 WIB, moderator minta sumbangan pemikiran dari Dr. Sunny Arief Sudiro, sosok sederhana yang memperkuat Bakor PKP di Bidang Kajian dan Rekomendasi.

“Kunci keberhasilan organisasi Bakor PKP adalah kebersamaan seluruh anggota. Tidak mudah namun kita jangan lelah. Kemudian yang kedua adalah kebesaran hati. Bagaimana kita bersikap terhadap segala keragaman pemikiran, kemauan, harapan serta karakter sesama anggota organisasi, ini yang menjadi kata kunci,”  tuturnya.(agt)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *