Home / KANGBARNO / 110 Tahun Wafatnya Raden Djodjodigdo, Patih Blitar dari Kulon Progo

110 Tahun Wafatnya Raden Djodjodigdo, Patih Blitar dari Kulon Progo

Pada bulan Maret 2019 ini ada peristiwa penting yang nyaris tak banyak diketahui masyarakat Kulon Progo. Peristiwa 110 tahun wafatnya Patih Blitar, Raden Ngabei Djodjodigdo. Ia adalah putra Kulon Progo.

Tiga hari lalu, tokoh yang oleh masyarakat Blitar populer dengan sebutan Eyang Djodjodigdo itu, genap 110 tahun wafat. Sebab putra Kulon Progo yang menurunkan trah bupati di sejumlah daerah itu, meninggal tanggal 11 Maret 1909.

Salah satu putra Patih Djodjodigdo yang paling dikenal adalah Raden Mas Adipati Arya Djojoadhiningrat. Nama Bupati Rembang ini semakin populer setelah menyunting Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi yang di kalangan anak sekolah dikenal dengan julukan Ibu Kita Kartini.

Selain RMAA Djojoadhiningrat, ada juga putra Eyang Djodjodigdo yang menjadi Bupati Tuban. Sementara di masa-masa berikutnya, banyak keturunan Patih Djojodigdo yang sukses. Termasuk Mr  AG Pringgodigdo dan AK Pringgodigdo.

Keduanya tokoh pergerakan nasional itu, pernah menjadi Sekretaris Kabinet Presiden RI pertama Soekarno: Mr AG Pringgodigdo sebelum Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mr AK Pringgodigdo setelah RIS.

Nama lengkap tokoh keramat bagi masyarakat Blitar ini adalah Raden Mas Bawadiman Djodjodigdo. Ia putra Raden Tumenggung Kartodiwiryo, yang dalam sejumlah catatan disebut sebagai Adipati Gentan Kulon Progo. RM Djojodigdo lahir di era pergolakan Perang Jawa, 29 Juli 1827.

Kawasan Kulon Progo yang memang menjadi salah satu pusat peperangan antara pasukan Kanjeng Pangeran Diponegoro dengan Belanda (1825-1830), membuat Djojodigdo remaja meninggalkan Kulon Progo. Usianya baru menginjak 12 tahun, saat ikut Bupati Ngrowo,  RMT Notowijojo III yang merupakan seorang pamannya, ke Bono Tulungagung.

Raden Djodjodigdo menikahi putri Bupati Brebes, Nganjuk, RMT Pringgodigdo. 10 anak lahir dari perikahan itu. Lalu Eyang Djodjodigdo menikah lagi hingga empat kali dengan jumlah anak mencapai 30 orang.

Tanggal 8 September 1877 menjadi hari penting bagi Raden Ngabei Djojodigdo, karena di tanggal itu, ia dilantik sebagai Patih Blitar. Ngabei Djodjodigdo mendampingi Bupati Blitar, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Warsokusumo hingga tahun 1895.

Meninggal pada 11 Maret 1909, Patih Pringgodigdo dipusarakan di pemakaman yang kini dikenal sebagai Makam Gantung. Letak makam itu ada di Jalan Melati No. 43 Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di depan Perdana Paint Store, atau sebelah barat Kantor SAMSAT Kota Blitar.

Banyak kisah menarik dari pusara yang juga disebut Pesanggrahan Djodjodigdan itu. Misalnya saja cerita jasatnya yang tidak dikebumikan melainkan digantung, karena memiliki ajian Poncosono yang jika tubuh menyentuh tanah bisa hidup kembali. Dari sanalah muncul sebutan Makam Gantung.(kib)

About redaksi

Check Also

Hari Pers Nasional & Jurnalisme Cakir

Malam ini, mumpung masih tanggal 9 Februari, saya ingin membuat tulisan yang agak-agak congkak meski …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *