Home / DENPUR / Menuju Pilpres, Arjuna Merebut Wahyu Sejati

Menuju Pilpres, Arjuna Merebut Wahyu Sejati

Tersebutlah Raden Arjuna ya Permadi ya Wijanarka ya Janaka ya Satria tampan sakti pujaan makhluk bumi dan langit. Ia menyisir negeri, menjumpai rakyat, untuk kemudian bersemadi di Gandamana: menunggu wahyu Purbosejati.

Sebagai Satria yang maha sakti, ia tidak sembarang bertapa. Sebab, dengan laku batin tingkat tinggi, ia menyelinap di alam suwung. Tubuhnya seperti menghilang, tanpa seorang pun mampu melihat bahwa dirinya sedang duduk di singgasana Mandura yang keramat, Agung, dan penuh perbawa. Tidak semua kesatrian mampu duduk di sana, jika tidak memiliki garis leluhur Mandura yang kuat.

Sementara Arjuna sudah duduk di tahta angker itu, darah Mandura yang lain baru berdatangan. Mereka, Baladewa, Kresna, Sencaki, Udawa, serta perempuan utama Wara Sembadra. Baladewa, sulung Negeri Mandura yang kadang jumawa, langsung berhasrat duduk di singgasana tinggalan ramandanya. Kresna hanya tersenyum karena memang mengetahui tabiat kakaknya yang sembrono. Maka terjungkalah Baladewa begitu berusaha mendekati tahta. Ia tak tahu ada Arjuna uang tak terlihat duduk di sana.

Baladewa menyerah, lalu menyuruh semua keturunan Mandura mencoba duduk di singgasana. Tapi tak satu pun mampu mencapai tahta. Sri Kresna, masih dengan senyuman meminta Sembadra ya Lara Ireng untuk ikut mencoba. Dan ternyata, dengan anggun, ia mampu duduk di tahta Mandura. Kagetlah semua yang ada di Gandamana.

Bersama itu, Batara Narada secara diam-diam menurunkan wahyu Purbasejati ke dunia. Wahyu ini terdiri dari empat bagian untuk empat ksatria pilihan. Wahyu Purbo diberikan pada Kresna yang akan berperanan dalam Baratayuda. Wahyu Wahdat untuk Baladewa yang akan menobatkan raja baru Astina setelah Baratayuda. Kepada Arjuna diberikan Wahyu Sejati yang berpasangan dengan Sembadra yang menerima Wahyu keprabon. Keturunan Arjuna dan Sembadra inilah yang akan menjadi raja Astina usai Baratayuda.

Inilah lakon carangan yang menjadi dasar kemenangan para Pandawa dalam perang akbar Baratayuda. Saya menuliskan ini, untuk melukiskan betapa menjadi pemimpin tidak sekadar populer, berkuasa, dan punya akses pada lingkaran kekuasaan. Seorang pemimpin lahir dari proses panjang, bahkan jauh sebelum ia hadir di panggung politik.

Pemimpin inilah yang kelak akan memenangi Pilpres, karena memang dia sudah menyiapkan diri, sejak ‘dari sananya’ ketika ia belum menjadi apa-apa. Dan, semua tokoh yang saat ini berebut wahyu  Capres-Cawapres, rasanya akan sia-sia jika memang tidak memiliki hak atas wahyu kepemimpinan itu.(*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019  remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *