Home / KANGBARNO / Bertemu Raden Saleh di Galeri Nasional

Bertemu Raden Saleh di Galeri Nasional

Sore-sore di akhir pekan, rasanya mewah sekali bisa duduk-duduk di Galeri Nasional. Lalu, antre mendapat kesempatan masuk galeri. Pameran lukisan kali ini sangat istmewa, tidak biasa, dan penggunjung diseleksi dengan sangat ketat.

Semua yang ingin masuk, harus mendaftar, distempel tangannya, menanggalkan semua bawaan. Hanya dompet dan ponsel yang boleh dibawa. Selebihnya, harus dititipkan pada panita pameran yang  terdiri dari orang-oran istana.

Benar. Ada perlakuan tak biasa pada pameran ini. Sebab, yang dipajang adalah lukisan-lukisan masyur kebanggaan Indonesia. Ini lukisan langka, karena tidak sembarangan kolektor yang memiliki. Sangat mahal, berharga, dan menjadi tapak sejarah perkembangan seni rupa di tanah air. Lukisan-lukisan tua itu, adalah koleksi istana negara.

Karena koleksi istana, penjaganya adalah pasukan khusus yang biasa berada di istana merdeka. Tapi tunggu dulu. Meski dijaga Paspampres, dengan perlakuan sangat ketat (mengingat lukisan yang dipamerkan sangat langka), begitu masuk di ruang pamer, suasana terasa cair. Pengunjung bisa leluasa, bahkan berfoto-foto.

Ada 48 lukisan yang dipamerkan. Dibuat dalam rentang abad 19-20. Pelukisnya terdiri dari 41 seniman terkemuka Indonesia. Mulai dari Ahmad Sadali, Alimin Tamin, Barli Sasmitawinata, serat Basuki Abdullah.  Ada pula Dullah, Hank Ngantung,  Hendra Gunawan, Ida Bagus Poleng,  Wakidi, dan Trubus.

Di antara pelukis-pelukis top itu, ada nama Raden Saleh yang menjadi legenda pelukis Indonesia. Lukisan yang pamerkan, adalah Harimau Minum, Berburu Banteng 2, serta Berburu Singa yang sangat kolosal.

Dan, inilah Raden Saleh Syarif Bustaman. Pelukis Indonesia atau tepatnya pelukis Hindia Belanda yang sangat kondang. Ia juga pelukis yang diakui oleh penjajah Hindia dengan menjalani hidup sangat lama di Eropa.

Pergumulannya dengan tema binatang dimulai saat tinggal di Denhaag Negeri Belanda. Ia mempelajari anatomi singa, atau harimau dari seorang pawang hewan. Lalu, pada 1842, bangsawan ini, mulai melukis kuda, penunggannya, serta singa buas.

Lukisan kolosan Perkelahian Singa dibuat pada 1870, yang menggambarkan perjuangan hidup dan mati seorang Badawi dan singa yang menjadi buruannya. Lukisan ini dipersembahkan untuk Raja William III dari Negeri Belanda.

Satu dasawarsa setelah merampungkan lukisan itu, Raden Salah wafat pada 23 Apri 1880. Lalu, ia dipusarakan di Bogor. Dan, 100 tahun kemudian, lukisan Raden Saleh lainnya yang berjudul Berburu Banteng 2, dibawa ke Indonesia sebagai hadiah dari Ratu Juliana. (kib)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *