Home / DENPUR / Membaca Hastabrata di Antara Gerah Tahun Politik

Membaca Hastabrata di Antara Gerah Tahun Politik

Begawan Kesawasidi termenung. Diacuhkan Resi Senggana yang bersila di depannya. Kera putih si Anoman sadar untuk tidak berbicara, sebab begawan Kesawasidi juga tidak banyak berbicara.  Anoman memilih menunggu titah. 

Oleh: Ki Bawang
dalang tanpa wayang

Susana Pertapaan Kutarunggu memang serba senyap, karena hanya terisi okeh tiupan angin yang sesekali saja datang kencang lalu mereda. Suara daun bergesekan ritmis bagai berbisik, entah kepada siapa. Siang itu, terik matahari tak sampai ke bumi, karena telajur ditangkap rimbun dedaunan.

Dalam senyap yang meditatif itu, dua orang sakti  hanya berdialog dengan batinnya sendiri-sendiri. Begawan Kesawasidi dan Resi Senggana ya Hanoman, adalah pertapa-pertapa digdaya meski sudah mulai senja. Dan, di tengah suasana ayem itu, datang  orang. Ramai mendekat, tidak hanya seorang, melainkan berbaris-baris, menyemut di depan Pertapan. Itu, sekejap membuat Anoman bersiaga. Dan benar. Keramaian itu dibuat oleh barisan Kurawa yang datang dipimpin Adipati Karna. Ia diutus raja Astina untuk meminta Wahyu Makutarama. Tentulah kaget begawan Kesawasidi, yang dalam seketika menolak permintaan bala Kurawa.

Huru-hara terjadi, dibuat para Kurawa yang kecewa. Tapi tidak lama, karena mereka kalah perang. Tapi pertapa an sudah ditinggalkan suasana sepi berganti datang tetamu  yang mengalir tanpa putus. Termasuk kedatangan Gunawan Wibisana yang sudah renta dan ingin mati. Perang tanding kembali terjadi karena Kesawasidi enggan membunuhnya. Tapi tak urung, setelah kalah, Wibisana mengakui bahwa begawan Kesawasidi adalah titisan Sri Rama, raja Ayodya yang pernah ia hamba.

Menjelang petang, tamu yang paling akhir datang adalah seorang pertapa muda yang sesungguhnya Arjuna yang sedang menyamar. Begawan Kesawasidi paham, yang mengadap Arjuna, Maka kepadanya diajarkan petunjuk penting menjadi raja. Petunjuk itulah yang sesungguhnya disebut Wahyu Makutarama. Berisi delapan ajaran yang kemudian dikenal sebagai Hastabrata: delapan petuah sakti calon raja yang ajarannya  berpedoman pada laku alam. Kesawasidi paham, dari Arjuna itulah, kelak lahir para raja yang akan memimpin negeri besar Astinapura, usai perang Baratayuda.

Wahyu Makutarama adalah kisah keramat dalam Jagad pakeliran. Saya kembali menukilkan sekilas untuk memberi perenungan dalam suasana tahun politik. Renungan untuk para pemimpin yang tengah menuju pesta demokrasi tahun depan. Pemimpin yang sesungguhnya butuh Hastabrata.  Sebuah ajaran hidup yang berdasar pada gerak alam, mulai dari bumi,  air, angin, samudera, matahari, bulan, gunung dan api. Mengapa harus sesuai gerak alam? Tentulah agar mampu memimpin secara selaras.

Lalu, apa saja makna gerak alam seperti bumi, air, angin, dan seterusnya itu? Mengapa seorang pemimpin wajib memahaminya? Tentu saja, banyak ajaran luhur yang bisa dipetik dari lakon Wahyu Makutarama untuk calon pemimpin negeri yang kini sedang merayu rakyat untuk memilihnya. Saya tidak bisa menjalarkan satu demi satu ajaran itu, karena ini adalah ilmu tua yang amat keramat. Butuh seorang guru sejati untuk mendalami agar tidak salah memahami.(*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019  remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *