Home / MAF / Bela Beli-47: Mereka tidak Memiliki Akses pada Modal

Bela Beli-47: Mereka tidak Memiliki Akses pada Modal

Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG (K) menyatakan ke miskinan di Kulon Progo masih menjadi salah satu persoalan. Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan, dinding gedhek, lantai tanah dan ruang tamu, dapur serta kamar kecil jadi satu.  

Mereka bahkan ada yang tidak mampu makan tiga kali sehari, pendidikannya rendah dan tidak banyak memiliki akses keluar karena keterbatasan informasi. Sebagai konsekuensinya, mereka tidak memiliki akses kepada modal. Mereka terhambat dalam berusaha sehingga upaya meningkatkan kesejahteraannya juga menghadapi banyak kendala.

“Potretnya masih memprihatinkan.  Banyak rumah warga masih terbuat dari gedhek   bambu yang bolong-bolong, lantai rumahnya dari tanah, antara dapur, WC dan ruang tamu masih menyatu,” katanya.

Upaya meningkatkan derajat kesehatannya banyak menghadapi kendala, dimulai dari perbaikan rumah untuk mewujudkan syarat minimal bagi tercapainya kesehatan lingkungan rumah. Rumah dengan ventilasi udara yang cukup, lantai tanah diplester agar lebih higienis. Sanitasi, air bersih dan sistem pembuangan air kotor sehingga memungkinkan terhindar penyakit yang bersumber dari lingkungan alam dan sekitarnya.

Gerakan bersama untuk menyadarkan masyarakat agar menjalani kehidupan yang bersih dan sehat menjadi keharusan. Syarat minimal untuk menghindarkan masyarakat dari berbagai penyakit dapat diwujudkan.  Selanjutnya masyarakat memperbaiki lingkungan sesuai kebutuhan dan kemampuan yang mereka miliki.

“Warga yang seperti itu tidak tahu kalau presiden sampai bupatinya sudah berganti karena hingga kini yang dirasakan masih sama sehingga belum bisa menikmati kemerdekaan,” katanya.

Mereka berkutat menghadapi masalah hidup dan mencari penghidupan sehingga masalah di sekelilingnya tidak sempat terpikirkan. Apalagi masalah politik yang jauh dari jangkauan pemikiran mereka, sama sekali tidak pernah terjamah. Mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar yang paling mendesak yakni kebutuhan sandang, papan dan pangan.

Kondisi rumah mereka menggambarkan, untuk memenuhi kebutuhan dasar papan,  mereka cukupkan yang sederhana sebatas untuk memenuhi kebutuhan berlindung dari hujan dan terik matahari.

Rumah yang layak, apalagi yang memenuhi standar rumah sehat masih jauh dari harapan. Beruntung mereka memiliki tempat berteduh dan tempat beristirahat di malam hari.  Rumah yang sehat belum menjadi priroritas utama, meski untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan syarat dasarnya, apalagi untuk keperluan keindahan dan  kenyamanan.

Sadang juga membutuhkan pemenuhan, sebagaimana papan, sandang  tidak menjadi prioritas utama pemenuhannya.  Membeli pakaian baru menjadi kebutuhan tersier karena pakaian baru menjadi barang mewah bagi mereka.

Setahun sekali berganti pakaian baru sudah beruntung, terkadang karena alasan keterbatasan anggaran mereka membeli pakaian pantas pakai.  Kalaupun ada mereka memanfaatkan pakaian bekas, lungsuran pakaian yang diberikan tetangganya. Lumayan untuk keperluan sehari-hari, nggo telesan.

Pangan, untuk memenuhi kebutuhan makanan umumnya mereka menggantungkan berbagai jenis makanan yang tersedia di sekitarnya. Beruntung bagi mereka yang memiliki sawah dan ladang dapat langsung memetik di tempatnya bercocok tanam.

Mereka yang hanya buruh tani, tidak memiliki sawah dan ladang, masih memiliki kesempatan magersari, atau bekerja di tempat orang yang memiliki sawah dan ladang kalau mereka masih muda dan memiliki kekuatan tenaga. Mereka juga dapat menjadi penggarap sawah dan ladang dengan kesepakatan membagi hasil yang diperoleh dengan pemiliknya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *