Home / DENPUR / Saat Setija Ngebet Jadi Senopati

Saat Setija Ngebet Jadi Senopati

Setija sangat bersemangat. Ia sudah sejak lama bermimpi jadi senapati Kurusetra Baratuyuda. Kepada semua orang, ia telah menyiarkan akan diangkat menjadi manggalayuda. Juga kepada rakyat di negeri yang ia pimpin.

Masih peanasaran dengan cita-citanya menjadi prajurit utama di Kurusetra, membuat Setija jumawa. Padahal, di arena Baratayuda baru dipetakan para senapatinya. Suasana Glagah Tinunu, markas operasi para Pandawa terasa dingin karena belum ada titik temu siapa yang akan menjadi pemimpin perang.

Jauh dari Amarta, Setija mendesak Sri Kresna untuk mengambil sikap. Duduk menghadap ramandanya, Setija ya Boma Narokosuro, putra terkasihnya mendesak. Tapi Kresna berkeras menolak keinginan Setija. Sebab ia sadar,  tengah merenungi perang besar Baratayuda yang sejatinya perang trah Kuru berebut tahta Astina yang dikuasai Kurawa.

Boma Narakasuro atau biasa disapa Setija, menatap lantai. Sudah sejak jauh di luar garis medan merang, Setija terus merenung. Sebagai anak Kresna ia merasa ditinggalkan. Ia semestinya mendapat jatah menjadi Senapati Agung. Tapi karena yang ditunjuk Gatutkaca, ia kalah. Selalu seperti itu, persaingannya dengan ksatria Pringgandani ini, kalah.

Sudah. Ia juga sudah menuntut sang ayah, Sri Kresna yang menjadi sponsor utama Pandawa, untuk bisa menyelipkan namanya sebagai kandidat senapati. Tapi lagi-lagi kalah saing sama Gatutkaca. Tidak hanya Kresna, gelombang penolakan terjadi di mana-mana. Juga dari para Pandawa yang akhirnya sepakat menunjuk Gatutkaca.

“Sudahlah anakku, engkau memang tidak punya hak menjadi senapati. Adikmu Gatutkaca yang lebih berhak maju perang.” Kresna merayu anaknya yang ngambek.

Tapi tidak. Setija ya Boma Narakasura tetap saja marah. Ia meninggalkan kedathon. Wajahnya memerah. Yang terbayang adalah Gatutkaca yang selalu membuatnya jadi pecundang. Ia harus mengambil keputusan dengan tidak mendukung Pandawa yang tak menganggapnya ada. Diam-diam, ia mencari cara untuk memihak lawan atau sekurangnya, bisa melawan Gatutkaca

Kisah Setija yang berhasrat besar menjadi pemimpin perang, sengaja saya tulis kembali, karena ingin memaknai fenomena pesta demokrasi di negeri ini. Setidaknya semangat saling merasa paling unggul untuk menjadi senepati perang. Semangat paling pantas dipilih sebagai pemimpin.(*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019  remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *