Home / DENPUR / Membaca Capres, Menafsir Gunawan Wibisana

Membaca Capres, Menafsir Gunawan Wibisana

Pasewakan Agung Alengka lengkap. Rahwana ya Dasamuka bertahta dengan anggun. Sesekali tangan kirinya melambai, meminta suguhan ditambah, karena mendengar laporan para punggawa membuatnya haus dan lapar.

Antara paham dan tidak dengan semua laporan, senyum mengembang. Satu tarikan nafas, angannya terlempar ke keputren tempat Dewi Shinta (yang ia culik dari Rama) ditempatkan.

“Sebaiknya Kakang Prabu kembalikan putri Shinta pada Raden Rama. Apa Alengka kurang calon-calon yang bisa dijagokan  mendampingi paduka di singgasana?”

Rahwana terkesiap. “Piye Gunawan? Hai Gunawan Wibisana adikku, apa yang baru engkau katakan?”

“Ingat kakang, akan lebih baik kita kembalikan Shinta kepada yang memiliki. Kita sudahi peperangan melawan para ksatria Ayodya.”

Rahwana diam. Gunawan Wibisana diam. Kakak-adik itu telah memulai kembali perang laten. Maka suasana pertemuan menjadi genting. Panas, menebar aroma pertikaian. Mencekam. “Gunawan. Aku ini raja. Jadi dengarkanlah rajamu berkata. Siapa yang engkau bela?”

“Kakang, aku mencintai Alengka. Karena itu tidak ingin melihat negeriku hancur oleh peperangan.” Geger. Pasewakan gempar. Rahwana berdiri. Tangan kanan disampirkan ke pinggan, sedang tangan kiri menunjuk Wibisana.

Tanpa berkata-kata, Rawana menunjuk pintu. Demikianlah. Tanpa pula berkata-kata, Gunawan Wibisana beranjak. Semua tercengang melihat drama dua saudara itu.

Kisah pasewakan agung Alengka, dalam Ramayana itu terasa tragis, menusuk hati.  Lalu, mari mengandaikan cerita panas ini dalam kehidupan kita. Atau andaikan, kisah menarik itu pada panggung politik hari-hari ini. Bawalah lakon tersebut untuk membaca suhu politik menjelang Pileg dan Pilpres.

Akankah ada tokoh Wibisana yang membangkang perintah rajanya, kemudian balik, membela musuh. Dalam wayang, ini dikenal dengan lakon Wibisono Balik. Karena ia balik mengikuti Rama, membongkar semua rahasia kekuatan Rahwana.

Sejarah politik banyak mencatat sikap-sikap para petualang yang senang loncat partai, tak ubahnya Wibisana setelah berpaling membela Rama. Seluruh strategi Alengka dapat dibidik tepat karena Wibisana tahu hingga rahasia terkecil negeri itu. (*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019  remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *