Home / DENPUR / Malem Minggu Lakone Pandawa Gugat

Malem Minggu Lakone Pandawa Gugat

oleh Ki Bawang
Dalang Tanpa Wayang

Astinapura merana. Prabu Duryudana resah. Ia melihat negerinya dilanda hujan panjang tanpa berkesudahan. Salah mangsa, karena sudah seharusnya hujan tidak turun.  Bersama itu, pageblug terjadi. Banyak penyakit muncul, banyak ketimpangan sosial terjadi.

Prabu Suyudana ya Duryudana ya Jakapitana merasa ada yang salah dengan negaranya. Melihat itu, Pandita Durna dan Patih Sengkuni sepakat mengatakan, keresahan massal terjadi akibat para Pandawa bertapa di Tegal Kurusetra. Mereka yakin, gara-gara itulah, Astina dilanda suasana panas.

Sementara itu, di Kurusetra, Puntadewa memang memimpin adik-adiknya melakukan tapa brata. Mereka berdemo, meminta keadilan Dewata. Keadilan karena ayah mereka, Pandu Dewanata, masih berada di Kawah Candradimuka. Roh Pandu menderita oleh siksaan Batara Guru. Pandawa menggugat, ingin ramandanya segera diangkat dari nestapa Candradimuka. Tapi apa yang kemudian terjadi?

Di Khayangan, Batara Guru justru membuat keputusan yang ganjil. Pertama, ia memecat Batara Narada karena dianggap menentang dirinya. Lalu, mengutus Durga agar memerintahkan prajurit bajubarat Batara Kala untuk menculik Pandawa, dijadikan santapan sang Kala. Bersama itu, Batara Indra diutus membawa Pandawa.

Dasar Pandawa adalah para ksatria utama, mereka pantang menyerah dan memilih ikut masuk Kawah Candradimuka daripada dimangsa Batara Kala dan gagal mengentaskan derita Pandu Dewanata. Begitulah. Lima Pandawa ditumpahkan begitu saja ke Candradimuka. Namun rupanya, di sana sudah ada Batara Narada yang membawa Kiai Semar. Dua dewata agung itu, membuat para Pandawa bisa bertemu arwah Pandu, tanpa kesulitan, tanpa halangan. Itulah ajaibnya Pandawa, mereka tidak musnah meski direndam kawah panas Candradimuka.

Ini adalah lakon tua. Lakon ketika Baratayuda belum terjadi. Tegal Kurukasetra, palagan yang menjadi ajang perang besar Baratayuda, masih merupakan alas angker, hutan gawat yang hanya para Pandawa berani bertapa di sana. Saya membaca lakon ini, sambil membayangkan suasana politik tahun ini, tahun depan, dan tahun depannya lagi yang menghangat.

Saya hanya membayangkan, atau sedikit mengandaikan, lakon Pandawa Gugat ini, mirip-mirip dengan suasana tahun politik yang biasanya panas, penuh persaingan. Tapi sesungguhnya ada jejak mulia yang dirintis para pemimpin di gelaran pemilu. Jejak membahagiakan rakyat seperti jejak Pandawa yang ingin membahagiakan orangtuanya yang sudah pralaya. Juga, jejak untuk kemenangan mereka dalam Baratayuda, kelak. Begitukah? Saya membayangkannya begitu.(*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019¬† remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *