Home / MAF / Bela Beli-51: Tomira Mempersiapkan Diri Masuk Bandara

Bela Beli-51: Tomira Mempersiapkan Diri Masuk Bandara

Transformasi masyarakat ke arah yang lebih baik akan terjadi seiring berjalannya waktu, masyarakat sendiri yang akan menilai budaya mana yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. 

Peradaban akan menjadi nilai dan mengkristal dari akulturasi budaya yang terus hidup dan berkembang bersama perubahan di masyarakatnya.  Gotong royong warisan lama yang hidup di masyarakat akan menembukan bentuknya yang baru seiring dengan perubahan yang terjadi di masyarakatnya.  Bentuknya berubah meski hakikatnya sama.

“Posdaya mempersiapkan anggotanya dengan ketrampilan untuk mengisi toko di bandara, saat ini Posdaya sudah memiliki Tomira,” kata Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K).

Seluruh komponen masyarakat agar ikut serta dalam pembangunan di sekitarnya. Tentu sesuai kemampuan dan kapasitas yang dimiliki, masyarakat dengan ketrampilan tinggi akan memasuki pasar kerja yang lebih baik.  Masyarakat kebanyakan yang umumnya tinggal di desa dengan ketrampilan terbatas dapat terlibat dalam pembangunan sesuai kemampuannya.

Prinsipnya masyarakat miskin tidak boleh tertinggal dari proses pembangunan sekitarnya, termasuk pembangunan bandara di sekitar tempat tinggalnya. Masyarakat dapat berkontribusi dalam dinamika yang terus terjadi sehingga akan terlibat dalam pembangunan wilayahnya.

Setiap anggota masyarakat tidak dapat tinggal diam, juga tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika yang bergerak cepat di Kulon Progo. Masyarakat Kulon Progo harus ikut terlibat dalam pembangunan dalam skala masif agar ikut merasakan denyut pembangunan wilayahnya.

Masyarakat yang terlibat akan merasa memiliki daerahnya yang berkembang, masyarakat tidak apatis karena tertinggal dari dinamika pembangunan yang terjadi di sekelilingnya.  Untuk itulah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah menyiapkan sumber daya manusia agar turut serta dalam pembangunan wilayahnya.

Masyarakat miskin meski karena keterbatasannya tetap harus terlibat, melalui dukungan dan pemberdayaan dari para pemangku kepentingan.  Pemberdayaan sejak awal dimaksudkan agar masyarakat miskin mampu membuka akses terhadap pembangunan yang tengah berlangsung di sekelilingnya.

Masyarakat miskin betapapun memiliki hak yang sama dengan masyarakat manapun sehingga keterlibatannya memungkinkan mereka memiliki keberpihakan terhadap pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.  Masyarakat akan memiliki keterlibatan langsung sehingga merasa memiliki dan mengambil manfaat untuk kesejahteraannya.

Merekalah yang memiliki tanggung jawab untuk merawat diri dan lingkungannya sehingga mereka yang akan mendapat dampak.  Penolakan dapat diminimalisir  dengan melibatkan masyarakat, sedangkan masyarakat yang selama ini memperoleh manfaat langsung dari lokasi dapat direlokasi untuk melestarikan kemanfaatan yang didapatkan dari tempat lama ke tempat yang baru.

Petani dan petambak misalnya dapat memanfaatkan ilmu dan ketrampilannya ditempat yang baru.  Meningkatkan kemampuan yang dimiliki untuk masyarakat sekitarnya sehingga mereka tetap memiliki nilai lebih  terhadap lingkungan dan masyarakat di tempat yang baru.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *