ACI-2: Budi Kurniawan Saputra

oleh -8 Dilihat
oleh

Sudah. Buku ditutup, rapi diletakkan di sudut paling jauh laci mejanya. Sepanjang hari itu, ia tak lagi menyimak pelajaran. Ia juga tak peduli dengan siswa lain yang berebut menjawab tawaran interaksi pak Mursid, guru sejarah yang sok akrab itu. Ia justru khusuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran tentang kejadian esuk hari yang membuatnya semakin tertunduk, berusaha meredakan gemetar akibat hatinya yang menggelepar.

Perjalanan siang menuju petang, akhirnya dirasakan dalam detak yang lambat. Dalam hitungan saat yang dekat, ia melihat ke jendela di sisi barat meja guru. Ia menanti bayangan matahari memanjang ke arah timur, bayangan yang menandakan senja tiba, untuk kemudian sekolah bubar. Tapi bayangan itu, seperti tak mengerti dinanti.

Bersama waktu yang dirasakan enggan berlalu, ia menarik kembali buku yang sudah disimpan di pojok laci paling dalam. Membuka lembar pertama yang langsung disambut sketsa wajah cantik dengan rambut ngandan-andan. Lalu ia membaca nama yang ia karang: Budi Kurniawan Saputra.

Begitu saja, matanya terangkat dari buku, lalu memandangi tiga sahabatnya yang penggalan namanya ia comot. Budi di sisi kiri, Saputra di sebelah kanan, dan Kurniawan si bintang kelas yang membuat semua orang iri oleh kepintarannya.

Budi adalah karibnya naik sepeda. Ia juga paling seneng kalau sedang belajar karawitan di pojok belakang sekolah. Ia sepertinya sangat mengagumi Pak Bagus, yang nyeni dan ahli dalam soal kabudayan Jawi. Saputra jago main basket, bahkan sering dipinjam kelas pagi jika sedang tanding di luar sekolah.

Nah, si pintar Kurniawan, sungguh membuat semua siswa tak berdaya. Andai semua kecerdasan anak-anak dikumpulkan jadi satu, yakinlah tak mampu menandingi otak Kurniawan yang entah diciptakan Tuhan dari bahan apa.

Ada senyum tertahan membaca tulisan nama Budi Kurniawan Saputra. Apa jadinya jika tiga orang kawannya itu disatukan dalam wujud nyata. Absurd, tidak nyambung, dan aeng. Satu senang kerawitan, satu senang basket, satu lagi tukan ngunyah buku. Edan tenan to kalau mereka benar-benar disatukan. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.