Home / MAF / Pasir Besi dari Merapi, Berkah untuk Kulon Progo
gambar 2. Sebaran Pasir Besi di Kulon Progo

Pasir Besi dari Merapi, Berkah untuk Kulon Progo

Siapa sangka pasir besi di pesisir Kulon Progo dengan deposit ± 300 juta ton itu berasal dari Gunung Merapi? Proses pembentukannya diperkirakan sudah sejak 2000 tahun yang lalu, dengan menempuh perjalanan sejauh ± 50 km, mengalami berbagai proses eksogenik (erosi, abrasi, transportasi, sortasi, dan sedimentasi) sebelum akhirnya terakumulasi sebagai gumuk pasir (sand dunes) di desa Glagah dan Karangwuni.

Gunung Merapi (2.930 m), merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia, terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Berthomier (1989), Merapi tua sudah ada sejak 400.000 tahun yang lalu, adapun Merapi yang sekarang diperkirakan terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam catatan Junghun, pada tahun 1836 kawah merapi mengarah ke selatan, kemudian antara 1930 sd 2010 mengarah ke barat dan barat daya. Namun sejak erupsi besar tahun 2010 kembali mengarah ke selatan dan tenggara.

Akibat erupsi Merapi, selain menimbulkan bencana tapi juga mendatangkan berkah. Tanah di lereng merapi menjadi lahan pertanian yang subur, masyarakat di sekitarnya bisa mengambil batu dan pasir yang seolah tak ada habisnya. Pembangunan Candi Borobudur pada masa Wangsa Syailendra (abad 8-9), dengan menghabiskan 2 juta balok (60.000 M3) batuan vulkanik diduga diambil dari Sungai Elo dan Sungai Progo yang berhulu di Gunung Merapi. Ternyata, Allah masih menyisihkan berkah produk merapi untuk masyarakat Kulon Progo yang jauh di ujung barat yaitu berupa pasir besi.

gambar 1. Gunung Merapi

Erupsi Merapi memiliki ciri khas mengeluarkan awan panas, yang oleh masyarakat di sekitarnya disebut “wedus gembel”. Keluar dari kawah, bercampur dengan material batu berbagai ukuran menuruni lereng, masuk ke lembah-lembah, sampai-lah ke aliran Sungai Krasak, Sungai Elo, dan Sungai Progo. Bersamaan derasnya arus Sungai Progo, material batu yang terbawa mengalami abrasi (pengikisan), sortasi (pemilahan), dan sedimentasi (pengendapan) hingga material halus yang berukuran pasir akhirnya sampai ke Samudera Indonesia.

Masuk ke laut melalui muara Sungai Progo, butiran pasir diaduk-aduk oleh arus laut yang disebut longshore current, menyebarkannya jauh ke arah barat hingga muara Sungai Bogowonto. Selanjutnya, gelombang laut mengambil alih dengan menghepaskan pasir-pasir tersebut ke daratan. Setelah pasir kering menjadi tugasnya angin untuk menerbangkannya ke arah utara hingga sejauh ± 1 km membentuk bukit-bukit pasir yang disebut gumuk pasir (sand dunes).

Pada saat ini gumuk-gumuk pasir sudah berubah menjadi lahan pertanian, tambak, pemukiman, dan area pariwisata. Pasir tersebut bernama pasir besi, material batu berukuran pasir (berdiameter 1/16 – 2 mm) yang mengandung besi, yang dalam ilmu kimia dinamakan Oksida Besi (Fe2O3). Demikianlah, Allah menciptakan pasir besi, berkah untuk masyarakat Kulon Progo.

gambar 2. Sebaran Pasir Besi di Kulon Progo

Diduga, selain pasir besi terdapat juga mineral Silika (SiO2), Titan (TiO2), dan Vanadium (V2O5) sebagai impuritiesnya. Mineral silika bermanfaat dalam industri keramik dan kaca. Titan bisa digunakan untuk bahan raket, gunting, rangka sepeda, dan alat-alat bedah. Adapun vanadium apabila dipadukan dengan besi akan menjadi keras, banyak digunakan untuk membuat batang piston dan poros engkol mobil.

Kontrak Karya eksploitasi pasir besi Kulon Progo telah dipegang oleh PT Jogja Magasa Iron (JMI), namun sampai saat ini tidak ada kejelasan. Perusahaan itu tak juga segera memulai operasionalnya meski pabrik percontohan pengolahan pasir besi sudah dibangun di pesisir Desa Karangwuni. Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengaku kecewa berat dengan nihilnya kegiatan PT JMI, karena hilangnya proyeksi pendapatan minimal satu masa APBD sebesar Rp 60 miliar. Terus, kapan masyarakat Kulon Progo bisa menikmati berkah pasir besi dari Merapi tersebut? (diolah dari berbagai sumber)

 

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *