Home / MAF / NGO Bule Ngajar Bantu Promosikan Tradisi Rempah Merah ke Dunia
Lia Andarina Grasia, Ketua NGO Bule Mengajar saat menyampaikan pandangannya terhadap Rencana Percontohan Tradisi Rempah Merah di Kokap.

NGO Bule Ngajar Bantu Promosikan Tradisi Rempah Merah ke Dunia

Tradisi minum Rempah Merah siap diperkenalkan ke dunia internasional. Lembaga yang akan membawanya juga bukan sembarangan, tapi non-government organization (NGO) Bule Mengajar yang sudah kawentar.

“Kebetulan sekali bulan lalu saya baru pulang dari Australia. Saya mendapat beasiswa kursus singkat dari sana untuk belajar pariwisata sekaligus mempromosikan potensi Kulon Progo. Karena kami dari NGO Bule Mengajar pernah dapat undangan dari Pak Agus untuk menghadiri Uji Coba Tradisi Minum Rempah Merah di Desa Hargorejo, 21 Desember 2018,  maka yang kami angkat adalah potensi herbal dan rempah di Kulon Progo sebagai salah satu daya tarik. Nah, setelah mengikuti diskusi pada hari ini kami menjadi tertarik sekali untuk turut mempromosikan Tradisi Minum Rempah Merah ini tidak hanya Australia juga ke internasional,”  ungkap Lia Andarina Grasia, Ketua NGO Bule Mengajar.

Sekilas tentang sosok Lia. Lia adalah orang Kulon Progo pertama yang berkuliah S1 Bisnis Hospitaliti di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali  (STPND) dan S2 Kajian Pariwisata UGM. Berkat NGO Bule Mengajar, segudang prestasi telah diraihnya. Beberapa prestasinya antara lain : Juara 1 Pemuda Pelopor Nasional Bidang Pendidikan tahun 2015. Ia dapat terpilih menjadi Juara nasional karena program Bule Mengajar yang dapat direplikasi ke seluruh daerah di Indonesia. Selain itu Lia juga pernah menjadi penerima ASTRA SATU Indonesia Awards tingkat provinsi tahun 2017, menjadi perwakilan UGM di Outstanding Students for the World (OSTW) di India tahun 2017, dan bahkan pernah diundang sebagai narasumber di program Kick Andy Show Metro TV bulan Juni 2017.

Adapun Bule Mengajar adalah nama non-government organization (NGO)yang didirikan oleh Lia pada 28 Oktober 2014. Awalnya hanyalah berupa komunitas yang kegiatannya adalah memfasilitasi interaksi antara turis asing dan masyarakat dengan mengajak mereka untuk datang ke Kulon Progo. Bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Kulon Progo, komunitas ini mengajak para bule memperkenalkan tentang negara dan budaya mereka masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke industri kecil, seperti industri gula semut, kerajinan serat alam, industri pengolahan makanan tradisional, gerabah dan sebagainya. Dan tentu saja tidak ketinggalan mengenalkan tempat-tempat wisata di Kulon Progo.

Sampai hari ini NGO  Bule Mengajar telah bekerja sama dengan 13 sekolah, mendatangkan lebih dari 300 warga negara asing dari 65 negara. selain itu tahun 2018 lalu NGO Bule Mengajar mendampingi sekaligus memberi pelatihan Bahasa Inggris gratis selama 1 tahun bagi warga desa Tayuban dan tahun ini akan mendampingi desa wisata Sermo.

“Saya sangat senang karena tadi telah diungkapkan, bahwa di dalam Tradisi Rempah Merah itu nanti akan ada pelatihan bahasa Inggris masyarakat di setiap desa lokasi Percontohan Tradisi Minum Rempah Merah. Kebetulan sekali kami saat ini kami sedang ada pendampingan di wilayah Sermo. Oleh karenanya kami senang sekali kalau bisa ikut melatih ketrampilan berbahasa Inggris bagi Karang Taruna, Kader PKK dan bahkan siapapun masyarakat Kokap yang berminat. Pasti akan kami latih. Biasanya kalau kami mengajar, kami langsung dengan menghadirkan bule. Kami siap untuk melatih masyarakat secara gratis dalam seminggu sekali. Tempatnya terserah mau di mana,”  lanjut Lia penuh semangat.

Selain itu Lia juga sangat tertarik dengan rencana pengembangan budaya menulis tentang rempah merah. Bule sangat tertarik dengan hal-hal yang tradisional. Kalau kawan-kawan bisa menulis tentang rempah, kami siap akan membuatnya dalam bahasa Inggris. Hal ini sangat perlu karena bule-bule punya kepentingan membawa oleh-oleh tentang Rempah Merah ke negaranya. Dan oleh-oleh paling prestis adalah berupa buku atau literatur lainnya. Jangan sampai Rempah Merah itu nanti diklaim daerah lain apalagi negara lain.

“Kami siap mentranslate dalam Bahasa Inggris. Mari kita segera go internasional. Kami banyak kawan yang akan membantu kita go internasional,”  tegas Lia mengakhiri tanggapan dan masukannya (agt)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *