Home / RJ / Ini Tentang Keris Zaman Now

Ini Tentang Keris Zaman Now

Ini tentang pelestarian keris. Banyak yang merasa gamang, menghadapi perubahan zaman, sehingga bertanya tentang eksistensi serta peran keris di masa mendatang.

Ada pertanyaan yang cukup menarik dari seorang peserta sarasehan dan seminar Tosan Aji yang diselenggarakan Perkumpulan Brajabumi beberapa waktu yang lalu. Walau cukup sederhana namun bila dicermati pertanyaan ini mengandung cukup tantangan untuk menjawab nya. “Apa sih fungsi keris di zaman sekarang?”

Baiklah kita coba untuk menyampaikan beberapa pandangan sebagai awal menjawab pertanyaan ini. Beberapa waktu yang lalu saudara kita Imron, salah satu praktisi dan pelestari Tosan Aji Brajabumi memaparkan fungsi keris dari masa ke masa. Diambil dari beberapa sumber, mulai fungsi keris dari masa jaman kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam, hingga keris jaman Kamardikan.

Fungsi Keris mulai dari alat senjata tusuk, alat perang, penunjuk strata sosial, sesaji, pelengkap busana juga sebagai simbol perwakilan diri seseorang. Keris dari waktu ke waktu memang memiliki makna dan fungsi yang sangat dinamis sesuai perkembangan jaman.

Tentu saja fungsi keris disesuaikan dengan relevansi masa / jaman berjalan. Keris pada saat perang dengan keris pada saat damai akan memiliki fungsi yg tidaklah sama.

Demikian juga di era modern sekarang ini yang semua sudah serba canggih, serba on line, serba elektronik, apakah keris masih memiliki makna. Terlebih apakah keris masih memiliki fungsi. Sebagai insan Perkerisan saya katakan tentu saja ADA.

Ada makna dan fungsi keris pada jaman modern seperti saat now ini. Bahkan keris memiliki sesuatu yang lebih, yang pantas dilekatkan pada sebuah benda budaya dengan nilai keluhuran yang tidak diragukan lagi hingga pantaslah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UNESCO memberikan pengakuan dan penghargaan yang layak kepada Keris.

Keris adalah benda seni budaya, walau pada awal pembuatan dimaksudkan sebagai senjata, namun unsur seni dan budaya pada keris sangatlah kental.

Unsur daripada sebuah seni adalah mampu menimbulkan dan memberikan rasa senang, atau sesuatu yang dapat dinikmati hingga menimbulkan rasa senang dan bahagia bagi yang melihat dan merasakannya.

Rasa senang adalah awal dari munculnya energi positif untuk orang memiliki semangat dan gairah dalam menjalani aktivitas hariannya. Kondisi senang juga mampu menciptakan perdamaian antar sesama. Perdamaian ditingkat keluarga, masyarakat, bangsa, negara, antar negara bahkan dunia. Dalam filosofi Jawa disebut memayu Hayuning keluargo, memayu Hayuning Sasomo, memayu Hayuning bongso, memayu Hayuning Negoro, memayu Hayuning Bawono.

Konsep memayu Hayuning Bawono inilah hal yang tidak dapat ditemukan dalam banyak benda seni dan budaya di jagad raya ini. Namun hal ini ada dalam sebilah keris. Apakah hal ini tidak berlebihan. Saya pastikan TIDAK.

Mari kita lihat kenyataan di lapangan, ketika para tokoh pemimpin bertemu, terutama di negara negara yang mengakui keberadaan pusaka seperti keris. Maka mereka akan sangat merasa bangga dan senang bila dapat saling memberi cindera mata berupa pusaka sejenis keris.

Kondisi rasa senang dan bangga ini tentu saja akan mempengaruhi kinerja kerja sama bilateral atau bahkan multilateral bagi para pemimpin tersebut yang notabene juga berpengaruh bagi negara negara yang dipimpinnya

Seperti pernah disampaikan Romo Bambang Gunawan, rasa hormat pada benda pusaka, mungkin perlu digaris bawahi. “Tanpa terbangunnya rasa hormat pada karya budaya bangsa sendiri (apapun itu), maka kita tak kan bisa menjawab pertanyaan apapun yg muncul kemudian,” ungkap sesepuh Perkumpulan Brajabumi itu.

Injih leres sanget. Rasa hormat (respect) merupakan tataran kepedulian yang tinggi. Tidak hanya kepada wujud bendanya tetapi kepada makna yang terkandung di dalamnya. Juga kepada empunya.

Dari Presiden Soekarno hingga Joko Widodo di Indonesia adalah para pemimpin di Indonesia yang kerapkali memberikan cinderamata kepada sahabat sahabat presiden dan raja atau duta besar dari negara lain.

Memayu Hayuning Bawono dapat dilakukan dengan sebilah keris, dan itu masih dapat dilakukan di era modern seperti sekarang ini, di zaman now ini. Ternyata keris bukan sekadar pelengkap busana seremoni adat Nusantara, namun keris juga mampu menghadirkan perdamaian dunia.

Salam Rahayu

About redaksi

Check Also

Jam 2 Mau, SMPN 4 Tambak & PPKP Baksos nang Sangkrek Kokap

Akhirnya, Bhakti Sosial dengan melakukan droping air bersih ke Dusun Sangkrek, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *