Home / KANGBARNO / Hari Ini, Mari Berdoa untuk 59 Tahun Meninggalnya Ki Hajar Dewantoro

Hari Ini, Mari Berdoa untuk 59 Tahun Meninggalnya Ki Hajar Dewantoro

Hari ini 26 April 2018. Melempar ingatan hingga 59  tahun ke belakang, Indonesia berduka. Tokoh paling moncer, Ki Hajar Dewantoro berpulang. Dialah bangsawan tinggi yang peduli rakyat  serta pahlawan dunia pendidikan.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, pada 2 Mei 1889. Ia menjadi salah seorang penentang penjajah paling gigih. Gerakannya bukan hanya ditakuti tapi sekaligus lawan sebading bagi Belanda. Raden Mas Soewardi ini pula, yang menganggat derajat rakyat Indonesia lewat pendidikan dengan melahirkan Taman Siswa.

Oleh karena kesungguhannya memperjuangkan pendidikan, semboyan Taman Siswa, tut wuri handayani, hingga kini lestari menjadi semboyan Kementerian Pendidikan Nasional. Sementara itu, tanggal kelahirannya, 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan.

Kemampuan intelektual hingga ketokohannya diakui kawan dan lawan. Itu pula yang membuat Presiden Soekarno (yang merupakan juniornya dalam pergerakan kemerdekaan) langsung memberinya gelar Pahlawan Nasional, tujuh bulan setelah kepergian Raden Mas Soewardi. Tepatnya, 28 November 1959.

Dalam sejarah, gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Ki Hajar Dewantoro merupakan gelar kedua yang diberikan Bung Karno, setelah pada tahun yang sama, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Abdul Muis. Penulis dan pujangga pengarang novel klasik Salah Asuhan ini, menjadi tokoh bangsa yang pertama menerima gelar Pahlawan Nasional.  Gelar Pahlawan Nasional ketiga diberikan kepada Soeryopranoto yang merupakan saudara dari Ki Hajar Dewantoro.

Raden Mas Soewardi memang seorang ningrat. Ia putra GPH Soerjaningrat yang merupakan putra Sri Pakualam III, penguasa Pura Pakualaman Jogjakarta. Seperti umumnya kaum bangsawan, RM Soewardi mendapat pendidikan formal yang baik. Hanya saja, saat menempuh pendidikan di STOVIA, ia jatuh sakit sehingga kuliahnya di Sekolah Dokter Jawa itu, tidak selesai.

Meninggalkan STOVIA, Raden Mas Soewardi tak kehilangan panggung. Panggung perjuangan RM Soewardi justru semakin luas. Saat Boedi Oetomo beridiri pada 1908, ia ikut aktif menjadi pengendali propaganda, terutama membangun kesadaran bangsa.

Berkat ketokohannya, meski masih belia, Kongres Pertama Boedi Oetomo sukses digelar di Jogjakarta. Dari organisasi bumi putra pertama itu, Soewardi selanjutnya terlibat dalam Indische Partij yang didirikan Ernest Douwes Dekker, yang kemudian menjadi sahabatnya dalam tiga serangkai bersama dokter Cipto Mangoenkoesoemo.

Bangsawan yang dekat dengan semua kalangan ini, juga dikenal sebagai penulis paling ditakuti oleh Belanda. Karyanya menyebar di hampir semua koran masa itu. Ia juga dikenal sebagai wartawan top di sejumlah media ternama: Midden Java, De Expres, Sediotomo, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Poesara, Oetoesan Hindia.

Tulisan RM Soewardi yang paling fenomenal berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda. Tulisan itu dimuat di De Expres, koraan yang pimpinan Douwes Dekker pada 13 Juli 1913. Tulisan itu membuat Belanda berang, karena memang sedang mengumpulkan dana dari rakyat untuk merayakan kemerdekaan negerinya.

Buah karya yang menggemparkan itulah, yang mengantarkan Soewardi Soerjaningrat, ke pengasingan.  Semula, ia akan dibuang ke Pulau Bangka. Namun pembuangan itu ditentang oleh dua kawan dekatnya, Douwes Dekker dan dokter Cipto. Tapi justru karena itu, mereka bertiga, diasingkan ke Negerei Belanda.

Dibuang ke Belanda, pada usia 24 tahun, tak menyurutkan langkah RM Soewardi. Ia semakin berapi-api. Di negeri penjajah,  ia bergabung dengan  Indische Vereeniging (organisasi pelajar Indonesia yang dikenal sebagai Perhimpunan Hindia).

Selama berada di pembuangan, RM Soewardi juga justru menemukan ide-ide memajukan bangsa lewat pendidikan. Ia bahkan, mendapat gelar Europeesche Akta, ijazah pendidikan ternama yang kelak mengantarkan menjadi Bapak Pendidikan Indonesia.

Cita-cita memajukan bangsa lewat jalur pendidikan segera dimulai sepulang dari Belanda pada 1919. Lalu, pada 3 Juli 1922, ia mendirikan taman belajar yang kemudian dikenal hingga kini sebagai Pawiyatan Taman Siswa.  Dan, demi perjuangannya serta keinginannya selalu dekat dengan rakyat, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, menghapus nama ningkrat dengan menggantinya menjadi Ki Hajar Dewantoro. Saat itu, usianya genap 40 tahun.

Dilahirkan di lingkungan bangsawan tinggi, Pahlawan Nasional ini, wafat pada 26 April 1959 sebagai rakyat biasa dengan sebutan Ki Hajar Dewantoro. Usianya 69 tahun kurang satu bulan.  Makamnya, di Taman Wiajaya Brata Jogjakarta, hingga kini selalu ramai dikunjungi peziarah.(kib)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *