Bela Beli-5: Entrepreuner Membutuhkan Jiwa Kepemimpinan

oleh -2 Dilihat
oleh

Pahlawan bangsa ketika mempertahankan RI dari ancaman kaum penjajah di masa silam, berani mengatakan menyerahkan nyawanya untuk membela bangsa dan negaranya. 

Bukan hanya pengurbanan harta dan benda, melainkan seluruh apa yang dimiliki termasuk jiwa dan raga.  Membela Indonesia dengan setulus hati dengan pengurbanan yang tiada tara bandingannya.  Saat ini bangsa Indonesia dituntut untuk mengatakan membela produk sendiri, untuk mengatakan lebih baik kelaparan daripada menggunakan produk asing. Lebih baik menggunakan produk sendiri yang dihasilkan di dalam negeri.

Masyarakat senang sekali, masyarakat kalau diajak untuk melakukan usaha, masyarakat responnya luar biasa, masyarakat di Jawa ini tidak seperti masyarakat tempat lain yang lebih suka panen daripada budidaya, atau menebang  saja. Posdaya mengajak masyarakat untuk memelihara ayam, memelihara kambing, bikin telur asin mau masyarakat tinggal memacukan.

Masyarakat yang memiliki budaya agraris, mengandalkan kemurahan alam harus terus mendapat dukungan agar mengubah diri menjadi wirausahawan.  Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengubah kebiasaan dari masyarakat agraris, ke masyarakat wirausahawan.

Secara budaya berbeda sehingga membutuhkan perubahan sikap dan perilaku dengan berbagai konsekuensinya.  Wirausahawan membutuhkan disiplin dengan perhitungan untung dan rugi yang tidak ada di masyarakat agraris.

Masyarakat itu asalnya tidak memiliki jiwa entrepreuner, masyarakat usahawan membutuhkan prasyarat untuk mencapai sukses yang diharapkan. Selama ini budaya entrepreneur belum menjadi kebiasaan di masyarakat desa, belum sebagian besar karena tradisi masyarakat agraris yang diturunkan dari nenek moyang masih kuat melekat dalam diri masyarakat.

Kalau dua persen saja, dari setiap 100 orang dua orang menjadi entreupreuner sudah baik.  Entrepreuner    membutuhkan jiwa kepemimpinan, tidak semua orang memiliki jiwa sebagai pemimpin sehingga tidak setiap orang dapat menjadi wirausahawan yang sukses. Yang lain jiwanya kuli, saya tak kerja saja. Yang memasarkan juga mengalami kesulitan, tapi kalau produksinya sudah banyak mengeluh, pak nyuwun tulung ditumbasi.

Masyarakat Samigaluh memproduksi Teh Suroloyo, kita harus memikirkan langkah selanjutnya setelah produksinya bagus, memikirkan pasarnya.  Marilah kita masyarakat bagus produknya. Posdaya bisa pasarkan gak ya, gak lucu kalau hanya dapat memproduksi tanpa mampu memasarkan.

Pekerjaan selanjutnya sustainabelity, bagaiamana setelah berproduksi, menjaga keberlanjutan produksi dan pemasarannya.  Sebab ujung dari semua proses pemberdayaan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin sehingga tidak hanya berhenti di produksi. Melainkan memasarkan produk dan memberi keuntungan kepada semua pihak, menjaga kelangsungan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.