Home / MAF / Bela Beli-44: Perlu Gerakan Menyadarkan Masyarakat Miskin

Bela Beli-44: Perlu Gerakan Menyadarkan Masyarakat Miskin

Bupati Kulon Progo dr Hasto Wardoyo, SPOG  mengungkapkan perlu kesungguhan untuk mengantarkan masyarakat miskin agar menyadari kemiskinan yang mendera.  Sering kali masyarakat miskin tidak menyadari akan kemiskinan dirinya.

“Sudah miskin, hidupnya boros,” kata Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K) banyak dari anggota masyarakat yang  masih miskin namun tidak berjuang untuk menjalani kehidupan yang produktif dan  meninggalkan sikap hidup boros.

Bupati Kulon Progo memberi contoh, di daerahnya ada sekelompok penyadap pohon kelapa  dan semua anggota kelompok itu miskin. Tetapi anehnya penderes pohon kelapa itu membawa HP dan sambil hola-halo-hola-halo di atas pohon kelapa.

Bupati bertanya, kenapa berbuat seperti itu? Dijawab, ini pak Bupati, kalau di bawah tidak ada sinyal.  Contoh semacam ini bukanlah sikap hidup yang produktif, bahkan cenderung konsumtif. Apa perlunya penderes nira kelapa menggunakan telepon seluler, tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan yang tengah dijalaninya.

Sikap hidup yang konsumtif, apalagi bagi orang miskin harus ditinggalkan. Diganti dengan sikap hidup yang lebih produktif sehingga sikap dan tindakannya sejalan dan mendukung pekerjaan yang tengah dijalani.  Penderes nira kelapa, kalaupun menggunakan telepon seluler sebatas untuk keperluan silaturrahmi,  tidak perlu juga membawanya ketika bekerja.  Apalagi situasi tidak memungkinkan, malah  membahayakan dan dapat berakibat kecelakaan.

Menurut Bupati, terus menerus mendampingi masyarakat miskin menjadi kunci untuk mengatasi kemiskinan.  Mendampingi masyarakat miskin dimulai dari proses menyadarakan mereka, kemiskinan tengah terjadi dalam kehidupannya. Untuk itu perlu upaya untuk mengatasinya dan hanya dapat dilakukan orang miskin itu sendiri.

Pertama yang dilakukan, menyadari kemiskinan tengah terjadi dan selanjutnya kesadaran yang ada untuk mengubah dirinya agar tidak menjadi miskin lagi. Proses penyadaran itu sering kali tidak mudah, masyarakat yang terlanjur apatis menghadapi diri dan lingkungannya sehingga upaya terus menerus menjadi satu-satunya jalan guna memutus mata rantai kemiskinan.

Pendampingan dan pemberdayaan menjadi bagian dari tugas pemerintah untuk mengantarkan masyarakat mencapai kehidupan yang lebih baik.  Seluruh elemen warga bangsa baik pemerintah, masyarakat dan kalangan dunia usaha memiliki peran dan tanggung jawab yang sama untuk mengatasi kemiskinan yang ada di masyarakat. Pemerintah menjadi ujung tombak karena mengemban amanah Undang-Undang yang diberikan wewenang sekaligus anggaran melalui satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang terstruktur dan terorganisir secara baik.

Pemberdayaan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat miskin menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan.  Memberdayakan masyarakat miskin dengan mengajak semua pihak untuk melakukan apa saja yang produktif. Masyarakat miskin akan memiliki contoh, melakukan bersama-sama sehingga timbul minat dan semangat untuk membangun diri dan masa depannya.

Pemberdayaan bermakna memutus mata rantai orang miskin agar kemiskinan yang terjadi tidak menjadi warisan generasi selanjutnya. Pemberdayaan bagi masyarakat miskin juga bermakna mendampingi, peduli dan berusaha untuk keluar dari kemiskinannya. Pemberdayaan bagi orang miskin menjadi pekerjaan jangka panjang, pekerjaan yang harus terus menerus dilakukan. Sekali berhenti akan menjadi masalah baru,  karena harus memulai dari awal lagi dan membutuhkan waktu lebih lama. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *