Home / MAF / Bela Bela-51: Posdaya Persiapkan Diri Masuk Toko di Bandara

Bela Bela-51: Posdaya Persiapkan Diri Masuk Toko di Bandara

Bupati Hasto Wardoyo melakukan berbagai inovasi program pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. Hasilnya Kulon Progo yang adem-ayem mendadak menjadi hingar-bingar.  Masyarakat  yang selama ini hidup dalam budaya agraris berubah menjadi masyarakat urban dengan kebiasaan hidup berbeda. 

Tradisi masyarakat agraris yang sangat bergantung kepada alam,  menjadi masyarakat yang tidak lagi tergantung kepada lingkungan. Masyarakat yang awalnya bersifat komunal berangsur-angsur lebih bersifat individualistik karena tuntutan sekitarnya.

Tradisi yang lama berkembang, berubah dan berganti dengan pola kehidupan baru yang sering membuat jarak di masyarakat.  Kehidupan gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari masyarakat, mulai tersingkir dengan munculnya tata kehidupan baru di masyarakat.

Perkembangan masyarakat seiring dengan kemajuan yang terjadi, ditambah perkembangan terbaru segera setelah pembangunan mega proyek terjadi di Kulon Progo.  Pembangunan bandar udara internasional untuk mendukung Bandara Adisucipto, Maguwo yang sangat padat menempati sebagian wilayah Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di kawasan Radar TNI-AU Congot dan sekitarnya.

Dampak pembangunan bandara di Kulon Progo sangat luas, terutama pembangunan manusianya. Masyarakat di lokasi bandara khususnya ikut dalam dinamika pembangunan.

Pembangunan bandara di Kulon Progo pasti ada dampak yang ditimbulkan, selain dampak negatif banyak juga dampak positif  yang menyertai.  Bagaimana masyarakat menyikapi, agar dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari mega proyek yang berlangsung di sekitarnya. Saat yang sama meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.

Masyarakat dengan kearifannya akan mampu memilah dan memilih mana hal yang bermanfaat, mana yang tidak bermanfaat. Masyarakat sendiri akan menentukan proses pergumulan sosial yang terjadi di sekitarnya.

Mega proyek yang berlangsung akan membawa konsekuensi terjadinya lalu lintas barang dan jasa. Orang datang dan pergi, singgah dan menetap di Kulon Progo dari berbagai latar belakang sosial, berpengaruh terhadap kebiasaan masyarakat setempat.

Pergaulan budaya yang berbeda satu sama lainnya, dapat menjadi pemicu munculnya dinamika sosial. Meski sering menimbulkan gesekan budaya yang berimbas di masyarakat.  Transformasi masyarakat ke arah yang lebih baik akan terjadi seiring berjalannya waktu, masyarakat sendiri yang akan menilai budaya mana yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Peradaban akan menjadi nilai dan mengkristal dari akulturasi budaya yang terus hidup dan berkembang bersama perubahan di masyarakatnya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Iki Loh Swasono nek Isuk-isuk Mlaku Nang Mbantul

Isuk tansah iseh adem. Srengenge durong ngetoke raine. dadi suasana iseh ketok peteng.  Ning, aku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *