Home / DWIDJO / Bangun Perbatasan untuk Ekonomi Baru

Bangun Perbatasan untuk Ekonomi Baru

Pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perbatasan mulai menggeliat. Seiring dengan diintensifkannya pembangunan di perbatasan. Hal ini terjadi seiring tekad pemerintah dalam membangun perekonomian dan kesejahteraan di mulai dari pinggiran. Demikian Diskusi Publik yang digelar Visi Indonesia, di Jakarta, Senin 24 September 2018.

Diskusi mengangkat tema Optimalisasi Peran Jurnalis dalam Mengabarkan Pembangunan di Perbatasan menghadirkan pembicara Kepala Bagian Humas Kementerian PUPR Krisno Yuwono, redaktur Wartakota Gede Moehanto dan peneliti perbatasan LIPI Syafuan Rozi Soebhan.

Menurut Krisno Yuwono, pemerintah saat ini telah mengubah paradigma lama wilayah perbatasan yang tadinya beranda belakang menjadi beranda depan.

Pemerintah Joko Widodo dengan nawacitanya, yaitu membangun negara dimulau dari pinggiran. Pembangunan di perbatasan menjadikan kebanggaan bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut.

Mereka bangga menjadi bagian Indonesia.
Pemerintah saat ini telah membangun jaringan jalan yang membentang di sepanjang perbatasan.  Pembangunan yang dilakukan baik yang bersifat paralel maupun akses menuju perbatasan.

Pusat pertumbuhan ekonomi di perbatasan saat ini mulai tumbuh dan diharapakan lebih intensif lagi agar tidak tersedot ke negara tetangga. Antusiasme percepatan pembangunan di perbatasan dan pesisir sangat dirasakan dan disambut sukacita warga setempat.

Ketika mayoritas warga perbatasan mendengar akan adanya pembangunan, mereka sangat senang berarti akan ada perbaikan jalan, kata Krisno.

Menurut Krisno, masyarakat perbatasan sangat membutuhkan jaringan jalan, karenanya sampai saat ini, pemerintah melalui Kementerian PUPR telah membangunn akses jalan perbatasan yang telah mencapat ribuan kilometer di Kalimantan dan ratusan kilometer di Papua  dan Nusa Tenggara Timur.

Hanya saja untuk wilayah Papua masih ada kendala, masih ada beberapa ratus kilometer jalan perbatasan yang belum dibangun karena kondisi dan kontur tanah yang sangat ekstrim, bahkan ada yang mencapat 1.000 meter di atas permukaan laut,katanya.

Gede Moenanto menekankan agar dalam proses membangun di wilayah perbatasan, pemerintah diharapkan dapat menjaga, memperhatikan masyarakat dan budaya lokalnya yang sangat bersahaja. Menurut Gede, pembangunan perbatasan memang penting, namun mereka butuh perhatian dalam melestatikan budayanya.
Peneliti LIPI Syafuan Rozi mengatakan pembangunan di wilayah perbatasan oleh pemerintah dinilainya sudah sangat masif dan luarbiasa. Hanya saja, menurut Syafuan, pemerintah dalam membangun perbatasan terhambat kendala.(tom)

About redaksi

Check Also

BPD Siap Kawal Program Pemdes Sesuai Aturan

Katingan , Koranpelita.com. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bumi Subur, Henny Meitriyati menyatakan siap kawal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *