Home / DWIDJO / Api Cinta (93): Tidak Sanggup Menanggung Akibatnya

Api Cinta (93): Tidak Sanggup Menanggung Akibatnya

“Jangan sampai jadi anak durhaka, jangan sampai dikatakan tidak tahu malu, jangan sampai dituduh sebagai tidak berbakti, jangan sammpai tak tahu diri anak tak tahu diuntung, jangan sampai dianggap anak tidak tahu berterima kasih.”

Tidak. Semua tuduhan itu tidak hendak melekat diri dan keluarganya. Jangan sampai cap itu menempel di dirinya, juga keluarganya. Tidak mau, tidak sanggup dan tidak akan pernah sekalipun.

Madsani dan Madanom sepakat untuk tidak meninggalkan kampung halaman. Meski keadaan rumah, kehidupan dan masa depan anak-anak tidak jelas benar, namun mempertahankan keutuhan keluarga menjadi lebih penting. Dibandingkan dengan apapun, termasuk kehidupan yang menjanjikan di tanah harapan, di seberang sana.

Madanom tidak sanggup menghadapi itu semua. Tidak sanggup menanggung akibatnya. Dicap sebagai anak tidak mau tahu kepada orang tuanya, sebagai hukuman yang paling berat di dunia. Keluarga besar Madanom tidak akan sanggup menghadapi cercaan masyarakat, kalau meninggalkan kampung halaman. Anak yang tak tahu berterima kasih, sesudah dibesarkan orang tua malah meninggalkan mereka setelah keduanya berangkat senja.

Apalagi menghadapi hukuman di akhirat kelak. Tidak akan sanggup untuk menanggung beban seberat itu.  Mereka tidak sanggup menjadi anak durhaka. Apalagi di hadapan sang Kholik, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bukankan doa yang selalu dipanjatkan mengharapkan kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. Bukankah doa yang dipanjatkan selalu menyertaka kedua orang tua mereka. Siap menjaga orang tua setelah keduanya menjadi renta. Bukan meninggalkan mereka di kampung halaman. Apalagi meninggalkan mereka di panti asuhan, sama halnya dengan membuang mereka dari kehidupan mereka. Mencampakkan mereka dari kehidupan, tidak sanggup keduanya melakukan hal semacam itu.

Meski kehidupan mereka susah, kehidupan yang pahit dan getir. Sehari makan sehari tidak makan, sehari dapat lauk, seminggu tidak mendapat lauk. Selama mereka bersama-sama akan ada rasa kebersamaan, kehangatan dan hubungan baik satu sama lainnya. Semua akan merasakan kehidupan yang sederhana, namun memiliki makna.  Makan bersama, tidak makan juga bersama, mangan ora mangan sing penting ngumpul. (bersambung)

About redaksi

Check Also

RKP Desa Sukoharjo Tahun Anggaran 2021 Disahkan.

Sukoharjo, Koranpelita.com Tahapan tahapan rancangan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa Sukoharjo setelah diadakan Pertemuan Pembentukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *