Home / DWIDJO / Api Cinta (116): Sebulan Berlalu, Nada Sumbang masih Terdengar

Api Cinta (116): Sebulan Berlalu, Nada Sumbang masih Terdengar

Maria masih dalam pikirannya. Masih kalut pikiran dan perasaannya. Belum dapat memberikan akal sehat, bagaimana semua itu dapat terjadi dengan Paidi.  Aktivis kampus pembela kaum dhuafa kenapa bisa terjerembab di dunia antah berantah.  Tergelincir di dunia hitam. Perbedaan yang sangat kontras, perbedaan diametral dengan keadaan sesungguhnya.

Membela Paidi sama halnya dengan bunuh diri. Membiarkan Paidi sendirian juga tidak sampai hati.  Maria belum menemukan formulasi yang tepat. Membela sahabatnya atau membiarkan. Pikiran dan perasaannya berkecamuk menjadi satu.

Antara membela atau membiarkan Paidi sendiri menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.  Sedangkan Paidi sepertinya tidak membutuhkan pembelaan.  Mudah-mudahan Paidi dapat mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahannya. Maria berdoa mudah-mudahan ada jalan terbaik.

Sebulan berlalu, peristiwa yang menggelayuti permasalahan hati dan perasaan Paidi. Nada-nada sumbang masih terdengar.  Teman-teman sesama aktivis masih memperbincangkan. Di pojok-pojok kampus masih terlihat adanya bisik-bisik. Di perpustakaan masih terjadi diskusi-diskusi kecil membahas permasalahan yang sama. Hanya di Masjid Kampus tidak tampak kerumunan yang membahas permasalah pribadi.

Paidi memikirkan permasalahan yang membelit hati dan pikirannya. Jujur saja sempat membuat linglung, membela diri tidak ada forumnya. Sedang membiarkan juga tidak menyelesaikan masalah. Namanya isu akan selalu berkembang. Dari satu mulut pertama, ke dua dan ketiga akan terjadi distorsi informasi. Sampai ke mahasiswa informasinya dapat menjadi lebih beragam.  Bermacam-macam tafsir berkembang. Akibatnya masing-masing menanggapi secara berbeda.

Paidi menjadi sering belama-lama sendiri. Kalau tidak di perpustakaan kampus. Lebih banyak berada di Masjid Kampus. Tafakur dan tadabar, apa hikmahdi balik semua kejadian yang menderanya. Setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya.

Akankah semua kejadian tersebut menjadi ladang persemaian. Bukankan setiap menapaki kehidupan akan menghadapi ujian dan rintangan.  Akan tetapi ujian semacam apa sehingga begitu beratnya. Ujian begitu besar, kenaikan kelas apa yang bakal didapatkan seusai ujian tersebut.

Shalat Jumat di Masjid Kamus Paidi masih berlama-lama. Memikirkan diri dan masa depan, mencari jalan keluar terbaik. Paidi sampai kesimpulan untuk membela diri. Paling sedikit memberikan klarifikasi.

Masalah yang berkembang berbeda dengan kerjadian yang sesungguhnya. Civitas akademika hanya tahu, Paidi bermain Ciblek dilanjutkan tidur di kompleks pelacuran. Padahal Paidi diajak tiga serangkai. Paidi tidak dapat menolak, apalagi mengelak. Ajakan teman-temannya yang datang  ke kost hanya dapat diiyakan.

Tidak ada rencana ke Simpang Lima apalagi ke Sunan Kuning. Mereka tidak memberitahukan. Mereka juga tidak memberi isyarat akan ke mana perjalanan malam itu. Mereka hanya menginformasikan kongkow-kongkow sambil minum kopi panas.  Selebihnya mereka tidak memberikan informasi detail perjalanan selanjutnya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *