Home / DWIDJO / Api Cinta (115): Maria Menitikkan Air Mata

Api Cinta (115): Maria Menitikkan Air Mata

Tiga serangkai menghapiri di waktu yang tepat. Ketika kost kosong. Tidak ada siapapun kecuali Paidi sehingga tidak dapat menolak. Tidak dapat mengelak, termasuk tidak dapat membantah kejadian-kejadian yang  berlangsung. Bersama Ciblek di Simpang Lima dan tertidur di Sunan Kuning. Dua kejadian yang hampir bersamaan, keduanya benar-benar terjadi.

“Jadi benar, kamu main Ciblek.”

“Kamu tidur di kompleks pelacuran.”

“Kamu ini aktivis macam apa, Paidi.”

“Berjuang untuk kaum terpinggirkan.”

“Ternyata kamu, sama saja dengan mereka.”

“Kamu bajingan tengik.”

“Hidung belang.”

“Main perempuan.”

“Di tempat pelacuran.”

“Oh Paidi… Paidi…”

“Malang benar nasibmu,.

“Banyak mahasiswa mengagumimu.”

“Gadis perawan berharap denganmu.”

“Kok malah memilih perempuan jalang.”

“Gadis malam penjaja, Ciblek.”

“Di kompleks pelacuran.”

“Seperti tiada ada lagi perempuan yang dapat dipilih.”

“Perempuan di dunia sudah inflasi, kebanyakan stok.”

“Laki-laki boleh menikah secara sah empat perempuan.”

“Satu laki-laki berbanding empat perempuan.”

Paidi diam saja, tidak memberi jawaban. Juga tidak menolak tuduhan orang, termasuk Maria  yang marah luar biasa. Paidi mendengarkan sekasama, mencatat dalam hati dan pikiran. Semua yang disampaikan sahabatnya, diresapi sekaligus sebagai bahan introspeksi. Menjadi bahan renungan. Paidi tidak hendak membantah, juga tidak ingin mengeruhkan suasana.

Mendengarkan menjadi yang terbaik baginya saat ini. Membantah malah akan mendatangkan perselisihan.  Menyanggah juga dapat mendatangkan persepsi sebagai sebuah pembelaan. Percuma memberikan klarifikasi kalau berhadapan dengan orang yang sedang kalap.  Memberi jawaban kepada orang yangsedang marah hanya akan memperkeruh suasana.

Paidi menunggu saja. Sampai sahabatnya menumpahkan semua pikiran dan perasaan yang ada di dalam dada. Paidi hanya akan menjelaskan di forum yang resmi. Seperti membuat persidangan, mendatangkan saksi-saki pelapor dan ada juri serta hakim yang akan memutuskan. Apakah ada kebenaran material, atau hanya fiksi yang direkayasa untuk kepentingan sesaat saja.  Kalau tidak, sekurang-kurangnya di forum diskusi yang menghadirkan banyak orang.

Penjelasan dapat dilakukan dengan menggunakan logika-logika, menggunakan akal sehat. Agar tidak terjadi debat kusir dan tidak berkesudahan. Sekali penjelasan dapat memberikan jawab kepada semua pihak.

Maria menitikkan air mata. Mendapati sahabatnya menghadapi masalah pelik, berat dan dapat menghancurkan semuanya. Reputasi sebagai aktivis di kampus, pejuang kaum dhuafa.  Maria marah besar tapi tidak dapat berbuat banyak. Kalau Paidi benar melakukan hal yang dituduhkan teman-teman se kampus, maka tidak ada pembelaan yang dapat dilakukan.  Seberapapun besarnya pembelaan tidak akan berguna. Justru sebaliknya, pembelaan akan makin memperparah keadaan.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Manjakan Pelanggan Acer Rilis Empat Laptop di Acer Day 2020

Jakarta,Kabarno.com Acer selalu ingin dekat dan menjadi bagian dari keseharian pelanggan melalui aktifitas tahunan Acer …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *