Home / DWIDJO / Api Cinta (114): Maria tidak Tega Menyaksikan Sahabatnya

Api Cinta (114): Maria tidak Tega Menyaksikan Sahabatnya

Maria dan Paidi bersahabat lama, sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus tercinta. Keduanya akrab karena saling menghargai, saling berbagi cerita suka dan duka. Maria tidak tega menyaksikan sahabatnya diperlakukan tidak adil.

Sayup-sayup terdengar, dari bisik-bisik di berbagai kesempatan tuduhan kepada Paidi. Menghakimi sebelum melakukan klarifikasi.  Maria tidak hendak terjebak seperti teman-teman yang lain. Menuduh sebelum melakukan tabayyun, klarifikasi kepada Paidi. Hal itu perlu untuk memperoleh informasi yang sebenarnya.

Apakah benar-benar Paidi melakukan yang dialamatkan kepada dirinya. Ataukah sebatas isu untuk memojokkan kandidat calon Presiden Senat Mahasiswa di kampusnya. Adakah upaya untuk melakukan kampanye hitam dari lawan-lawan politiknya.  Apapun dapat terjadi, apapun dapat dilakukan untuk memenangkan pertarungan.

“Ayo  makan di kantin,”

“Kali ini aku yang mbayar,”

“Tidak usah dihiraukan lagi,”

Maria seperti mendesak. Paidi tidak mengelak, juga tidak memberi jawaban. Mengikuti saja keinginan sahabatnya. Paidi memang sedang mencari tahu.  Apa gerangan yang menjadi sebab semua orang mencibirnya. Adakah kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.  Ataukah kekeliruan dalam bertindak sehingga menimbulkan kebencian luar biasa.

Paidi membuntuti saja, berjalan di belakang Maria. Pucuk dipinta ulampun tiba pikirnya, Paidi memang sedang membutuhkan teman yang dapat mencarikan informasi. Apa gerangan yang sedang terjadi di kampus sehingga semua orang seperti mentertawakan dirinya.  Adakah isu yang sedang berkembang, ataukah intrik untuk mengeruk keuntungan sesaat. Atau hanya pekerjaan orang iseng saja sehingga pihak yang menjadi pesakitan.

Kalau yang terakhir ini, apa makna di balik semuanya. Siapa yang bakal diuntungkan.  Berapa banyak kerugian yang ditimbulkan. Paidi masih menduga, apa gerangan yang bakal disampaikan sahabatnya.  Mau menghakimi seperti banyak teman yang lain. Atau benar sebagai sahabat sehingga mampu mencarikan jalan keluar atas permasalahan yang membelit.

“Benar kamu keluyuran,” Maria membuka pecakapan.

“Keluyuran malam-malam, sampai dini hari,”

“Bermain di Simpang Lima sama Ciblek,”

“Tidur di kompleks Sunan Kuning,”

Paidi termangu, termenung dan tersentak. Baru  menyadari dirinya. Seperti baru bangun dari mimpi. Tersadar, ternyata berada di dunia nyata. Paidi terdiam, tidak memberi jawaban. Juga tidak memberikan komentar apapun. Hanya raut wajahnya yang mengiyakan. Semua yang terjadi, meski tidak pas benar.

Paidi menyadari. Ternyata tiga serangkai tengah membuat ulah. Sudah merencanakan semuanya. Apa maksud di balik semua rencananya.  Padahal tidak ada perselisihan di antara mereka. Juga tidak pernah ada salah paham di antara mereka. Semua baik-baik saja. Tapi mengapa mereka tega berbuat seperti itu. Adakah tangan-tangan besar di baliknya. Adakah tujuan lebih besar di belakang kejadian tersebut. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *