Home / KANGBARNO / Wong Nggunung Menunggang Gelombang

Wong Nggunung Menunggang Gelombang

Kembali ke Bali, baru kali ini saya menunggang gelombang.  Belajar menjadi penjinak ombak. Bukan penjinak sungguhan, karena saya masih serba belajar. Ya belajar akrab dengan air, apalagi air laut, karena sebagai wong nggunung tentu saja saya tidak akrab dengan air. Ya, belajar menjaga harmoni diri biar bisa berdiri di papan yang digoyang gelombang. Ya belajar menahan ngeri, karena saya memang tidak bisa berenang.  

Begitulah. Awal minggu ini, saya kembali ke Bali yang elok dengan sejuta keindahan alam dan budayanya. Kunjungan kali ini, seperti biasa, karena tugas, bukan untuk berlibur. Namanya tugas, sudah pasti tidak banyak waktu untuk bersenang-senang menikmati Bali.

Tapi apa yang terjadi? Jadwal pertemuan dengan petinggi daerah yang awalnya diagendakan pagi, digeser menjadi sore hari. Nah inilah saatnya mengisi hari. Mumpung ada waktu, sudah terbayang pesona Pulau Seribu Pure yang selalu menakjubkan semua orang itu.

Bangun tidur lebih awal dari waktu di Jakarta, menunaikan kewajiban sholat subuh, rutinitas pagi dimulai: jalan menikmati udara, lari-lari kecil, atau sekadar menggerakkan tubuh.

Suasana pagi di Bali, pasti, lebih menarik. Saya memilih berjalan sepanjang pantai Sanur, menyecap hangat cahaya matahari yang masih malu muncul dari ufuk timur. Dari awalnya masih agak gelap, lalu langit memerah, hingga bulatan matahari utuh. Bulat bundar yang tidak menyengat, pada awalnya.

Laut masih surut. Saya membayangkan, air itu, seperti sebagian besar air diminum oleh raksasa yang kehausan. Sementara kapal yang semalam berlayar, tak bisa menepi sampai bibir luar pantai. Mereka teronggok agak ke tengah menyentuh tanah.

Setelah memahami situasi pantai, saya kembali ke hotel untuk sarapan. Sarapan pagi yang canggung, karena harus bersama para turis  yang hampir seluruhnya berhidung mancung dan berkulit putih, sedang saya serba berkebalikannya. Kadang saya tak paham bahasa mereka tapi ada juga yang berbahasa Indonesia dengan sangat lancar.

Waktu masih sangat banyak dan tak akan habis hanya dengan menikmati sarapan croissant ataupun omelet. Jadilah bersama rombongan, sepakat untuk mencoba olahraga air yang baru ngetrend.  Olah raga yang menantang sekaligus menyeramkan, terutama buat orang nggunung seperti saya yang takut air dan tidak bisa berenang.

Nama olah raga ini adalah stand up paddle boarding atau SUP. Kalau boleh digambarkan, SUP ini gabungan antara selancar dan kano. Papan yang digunakan seperti halnya papan selancar, namun penampangnya lebih lebar.

Kita memainkannya dengan berdiri di papan tersebut, kaki diikat dengan tali yang ada pada papan tersebut mirip dengan selancar sehingga jika kita terjatuh, dengan mudah dapat menggapai papan tersebut. Bedanya dengan selancar, SUP dimainkan menggunakan dayung. Kita berdiri di atas papan, lalu mendayung hingga tujuan tertentu.

Jika bermain SUP hanya di laut yang tenang tanpa ombak, rasanya kurang menantang. Jadilah kami serombongan mencari sensasi lain dengan tetap berdiri dan mendayung mendekati dan melewati ombak. Saya, sudah barang tentu lebih sering jatuh dan tercebur di laut. Tetapi ada cara untuk mengendalikan papan SUP dengan kaki kita mengikuti irama ombak atau duduk di atas papan SUP.

Mengingat wong nggunung yang tidak bisa berenang, saya perlu pelampung agar bisa mengambang saat jatuh ke laut. Pelampung inilah yang telah beberapa kali menjadi peyelamat  dari kerasnya ombak laut Sanur.  Saya memang bisa selalu selamat, karena punya modal pelampung, tapi tetap ada tumbal yang harus saya relakan: kaca mata terjatuh ke dasar laut.

Semoga kura-kura atau ikan yang membutuhkan alat bantu melihat bisa menemukan dan menggunakan kacamata tersebut. (*)

About redaksi

Check Also

Wargi 5 Pedukuhan Nyadran Wonten Ing Kramatan Kauman

Selepas siang, masyarakat Jombokan, Kopok Kidul, Bujidan, Soronanggan, dan Siluwok berkumpul di kramatan Kauman. Warga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *