Home / GAWIN / Tahun 1929, Sholat Id Pertama di Batavia

Tahun 1929, Sholat Id Pertama di Batavia

Batavia 1929. Suasana kota di bawah kekuasaan VOC itu, terasa pengap. Panas bukan oleh kemarau yang terik. Tapi karena zaman yang sedang berguncang.

Bangsa-bangsa di muka bumi ini, memasuki era tidak ramah karena terlindas  oleh krisis yang berat. Krisis inilah, yang kemudian dikenal sebagai zaman meleset. Kehidupan berubah keras, apagi bangsa yang ditindas penjajah.

Dalam suasana seperti itu, Hindia Belanda, disergap kekacauan. Namun itulah saat-saat yang dimanfaatkan oleh para pejuang, untuk menunjukkan eksistensinya. Bung Karno, seolah menemukan waktu yang tepat, untuk memanfaatkan perang Pasifik yang gempar.

Mimpi besar para pejuang untuk merdeka, tentu saja ditanggapi dengan kekerasan oleh Belanda. Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Limburg van Stirum mengeluarkan seruan yang di kemudian hari menjadi sangat terkenal; “Jika diperlukan, Hindia akan dijajah Belanda hingga seratus tahun lagi.”

Kekisruhan politi itu, memang melahirkan banyak intrik. Umat Islam, meski tak hendak ikut berpolitik, mendapatkan momentum istimewa untuk tampil. Tahun 1929 itulah, untuk pertama kalinya, Sholat Idul Fitri digelar di Batavia. Menurut Java Bode, media yang di zaman Belanda sangat ngetop, Sholat Id digelar di lapangan Koningsplein yang kini menjadi kawasan Monas.

Suasana Lebaran di Batavia, terlihat sangat bersahaja, meski tidak kehilangan suka-cita. Orang-orang berkerumun di pasar, atau di tempat-tempat umum. Sementara para penjual makanan dan baju baru, bermunculan.

Tanah luas di kawasan Koningsplein, akhirnya selalu menjadi pusat shalat Id di Batavia. Termasuk ketika penjajahan berpindah ke tangan kolonial Jepang. Seperti diketahui, lapangan Koningsplein di masa pendudukan Kenpetai, dikenal sebagai Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta).

Seorang penulis bernama Harry J Benda, pernah melukiskan kegeraman umat Islam terhadap bala tentara Jepang.  Pada sebuah Lebaran, Jepang merarang Sholat Idul Fitri digelar di Ikada. Imbauan pemerintah kala itu, sholat dilaksanakan bersamaan dengan Sholat Subuh. Tujuannya, agar ritual Sekerei atau menyembah matahari terbit, tidak terganggu.(kib)

About redaksi

Check Also

Sore-sore Dijamu Ingatan yang Bikin Malu

Sore-sore, mengingat sebuah fase hidup. Pemicunya adalah sebuah foto lawas. Foto ndeso yang asli, membuat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *