Home / KEMAT / Parangkusumo-8: Menyisir Tebing Mistik Goa Langse

Parangkusumo-8: Menyisir Tebing Mistik Goa Langse

Dan, tidak hanya di Parangkusumo. Pesisir selatan, banyak menyediakan tempat-tempat mistik yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Ratu Kidul dengan Panembahan Senapati.

Ada Goa Siluman, Goa Tapan, Goa Semar, atau Sendang Beji.  Tentulah wajar. Bukankah, pantai selatan adalah beranda istana sang ratu?

Maka, tersebutlah Goa Langse yang keramat, sebagai tempat favorit dua penguasa itu, dalam menyatu rasa. Dari Parangtritis (pantai di sebelah selatan Parangkusumo) Goa Langse terlihat bagai taman indah, yang terselubung kabut gaib.

Keindahan yang bisa ditangkap dengan ketajaman batin, sedang ketajaman mata hanya akan menangkap sebuah bangsal kecil, yang tampak setia menemani perputaran waktu. Selebihnya, dari Parangtritis, Goa Langse adalah batu karang yang memiliki keteguhan memangku ombak dan tiupan angin Samudera Hindia.

Letak goa yang penuh daya magis ini, memang tidak jauh dari Parangtritis. Namun secara administrative, Goa Langse berada di wilayah Desa Girireja, Panggang, Gunung Kidul. Pada malam-malam keramat (Jumat Kliwon-Selasa Kliwon) goa ini, menjadi tujuan para pelaku semadi.

Tempat ini, menjadi favorit karena, aora mistisnya yang kuat, dengan cengkeraman alam, yang juga keras. Butuh kekuatan batin yang tidak biasa, untuk bertapa di sini, selain perlu ketahanan fisik karena medan yang cadas menyisir di sisi tebing.

Sungguh dibutuhkan bekal niat yang tebal, untuk sampai di pertapaan Goa Langse. Lihat saja perjalanannya, yang menguras tenaga. Jika fisik mendukung, bekal berikutnya adalah keberanian dan kekuatan melumpuhkan rasa takut.

Ladang penuh perdu, serta pohon jati yang bagai tiang-tiang penyangga langit, sudah menyambut 150 meter pertama. Inilah yang disebut Alas Gupit. Lalu, masuk Plawangan, sebuah tebing berhias batu cadas ukuran besar yang memunggungi laut. Jangan melihat ke bawah, jika tidak ingin dihantui maut. Sebab, kecipak ombak, meninggalkan buih putih tak ubahnya air mendidih di atas bejana raksasa.

Tidak perlu bertanya, atau membatin, apabila di setiap langkah melihat sisa bunga setaman. Di sana, di setiap cekungan kecil, adalah tempat wingit yang perlu dihormati. Bunga-bunga yang sebagian sudah mengering itu, adalah bagian dari penghormatan para ahli semadi.

Sambil berjalan penuh kehati-hatian, bayangkanlah, kehebatan orang-orang yang menjadikan Goa Langse tempat bertetirah. Mereka rela menyiapkan nyawa, untuk mencari harmoni batin; menyusur tebing tegak lurus sebelum sampai di kedamaian beranda Istana Ratu Kidul.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *