Home / KEMAT / MEMAHAMI ‘JENIS KELAMIN’ KIJING

MEMAHAMI ‘JENIS KELAMIN’ KIJING

Tradisi menghormati leluhur dengan membangun makam sudah sangat jamak dilaukan. Membangun makam ini disebut dengan  ngijing,   nyekar, atau nyandi. Masyarakat Jawa percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal pada hari tertentu masih mengunjungi Rumah dan keluarganya. Roh leluhur akan gembira bila anak keturunan nya masih mengirimkan do’a.

Dan ternyata, kijing juga mengenal berjenis kelamin. Saya mendapat cerita dari Almarhum Mbah Reso Duriyo atau mbah  Reso Sijam. Dia, pembuat kijing legendaris dari Dusun Jombokan.

Mbah Reso menjelaskan bahwa identitas pada kijing atau batu nisan, dapat dilihat dari bentuk maejan (nisan batu) jika maejan berbentuk bunga yang tumpul atau  papak, atau bujel, maka dapat dipastikan bahwa itu merupakan kijing perempuan. Sebaliknya,  jika bentuk maejan  lancip, atau runcing  sudah pasti kijing laki-laki.

Batun nisan atau maejan karya Mbah Reso dapat dirasakan tumpul dan runcingnya maejan dengan diraba. Karena secara kasat mata tidak kelihatan, tetapi jika diraba dengan tangan akan terasa kijing tersebut tumpul atau runcing. Jika tumpul itu merupakan makam perempuan, jika runcing itu merupakan makam laki-laki.

Namun kini, pengranjin kijing atau batu nisan tidak lagi membedakan bentuk fisik laki-laki atau perempuan. Kalau pun beda, tidak dengan bentuk fisik yang terlalu mencolok. Karena sudah diganti dengan tulisan. Nisan yang terukhir dengan kata  Kiyai  atau  Ki, adalah nisan laki-laki,  sedangkan kalau perempuan dengan awalan  NYAI ,  NYI  atau  NI.

Kelemahan Kijing jaman dahulu adalah karna polosan, tidak terdapat batu bertulis atau nisan bertulis, sehingga hanya dibedakan jenis kijing laki-laki dan perempuan. Penjelasannya pun disampaikan secara lisan, turun temurun, oleh keluarga masing-masing. Itu yang orang lain tidak bisa tahu pusara siapa yang dimakamkan di situ.

Kelemahan dari sistem menyelaskan secara lisan ini menyebabkan banyak yang lupa dan tidak bisa mengurutkan nenek-moyangnya ke atas seperti orang tua, simbah, simbah buyut, simbah canggah dan seterusnya.(stmj)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *