Home / KEMAT / Ki Ageng Suryomentaram-4: Pencetus Jimat Perang, Penggagas PETA

Ki Ageng Suryomentaram-4: Pencetus Jimat Perang, Penggagas PETA

Ki Ageng Suryomentaram, memang seorang penjelajah batin. Tapi untuk urusan kebangsaan, pangeran yang memilih jadi rakyat biasa ini juga tokoh terpandang. Tidak hanya ikut mendirikan Taman Siswa, Ki Ageng juga ikut menggagas terbentuknya PETA di jaman Jepang.

Jauh sebelum Jepang masuk, Ki Ageng sudah aktif di pergerakan. Itu yang membuat sepak-terjangnya selalu diawasi Belanda. Pertemuan personal hingga sarasehan yang diikuti, mendapat intian PID atau Politzeke Inlichtingen Dienst.

Bersama tokoh pergerakan yang ditangkap Belanda, sekitar tahun 1926, Ki Ageng Suryomentaram juga diamankan.  Saat itu, sosok berkarisma ini hendak ke Jogja.  Berangkat dari Beringin, baru sampai Desa Gondangwinangun, sudah ditangkap. Tapi karena dijamin oleh Sri Sultan HB VIII, penahananya diurungkan.

Sebelum Jepang mendarat di Indonesia, Ki Ageng dan para pengangeng, melakukan banyak pertemuan yang kemudian dikeal sebagai pertemuan Manggala Tiga Belas. Salah satu yang digagas adalah membentuk barisan bersenjata semacam tentara.

Usulan Ki Ageng membentuk tentara pernah disampaiakan pada Bung Karno, Bung Hatta, Kiai Haji Mas Mansoer, serta Ki Hadjar Dewantara. Sebagai penggagas, sebuah pedoman yang berisi dasar-dasar kemiliteran disusun. Ia menamakan pedoman itu Jimat Perang yang didengungkan ke seluruh negeri. Isinya: pandai perang dan berani mati dalam perang.

Setelah Jepang menduduki tanah air, usulan membentuk kesatuan tentara sukarela diusulkan. Dan disetujui oleh pemerintah Jepang di Tokyo. Maka segeralah, Ki Ageng Suryomentara merealisasikan idenya dengan membuat pendaftaran menjadi tentara sukarela. Inilah cikal-bakal terbentuknya tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang kelak menjadi Tentara Nasional Indonesia.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *