Home / DWIDJO / Api Cinta (44): Yang Dilakukan hanya Membayangkan Mirah

Api Cinta (44): Yang Dilakukan hanya Membayangkan Mirah

Paidi memang belum saatnya memikirkan hal-hal semacam itu. Namun keadaan yang memaksa pikirannya menerawang jauh di masa depan. Pikirannya meloncat-loncat, membayangkan dirinya.

Di kesempatan lain memikirkan Mirah yang dalam pandangannnya makin hari bertambah cantik saja. Pikirannya mejadi galau, tidak dapat berkonsentrasi. Ketika di rumah tidak melakukan aktivitas, yang dilakukan hanya membayangkan Mirah yang semakin menawan mengharu-biru akal dan pikirannya.

Paidi tidak banyak memperhatikan pelajaran di sekolah. Pelajaran di kelas bahkan manjadi menakutkan, membosankan dan menjemukan. Betapapun pelajaran diulang-ulang, namun tidak memberikan pemahaman kepada Paidi. Pelajaran sejarah yang menjadi kebanggaan di sekolah dasar, kini seperti angin lalu saja. Olahraga yang menjadi kebanggaan selama ini juga tidak memberi daya tarik lagi.

Kegembiraannya hanya ketika berangkat ke sekolah. Sekembalinya dari tempat belajar. Hanya dua kesempatan itu yang menjadi semangatnya selama ini. Ketika itu Paidi dan Mirah bersepeda bersama. Mengayuh sepeda seperti dikomando saja, beriringan kadang berdampingan. Terkadang mereka bernyanyi bersama, namun sering berbincang lirih mengenai hal-hal sepela yang dihadapi dalam hidup sehari-hari. Sesekali merencanakan apa yang bakal dilakukan sepulang sekolah. Ke sawah berjalan di pematang yang licin, atau sebatas membantu orangtua di rumah.

“Sesuk mangkat jam piro,”

“Nggowo pit, opo ora,”

Mirah masih menanyakan apakah esok hari ke sekolah bersama-sama.  Apakah mereka berangkat bersama. Apakah mereka membawa sepeda sendiri-sendiri. Padahal mereka sama-sama tahu, jam berapa harus berangkat sekolah. Mereka juga pasti tahu kalau berangkat sekolah harus membawa sepeda kesayangannya.  Pertanyaan yang disampaikan hanya sebatas untuk mempertegas saja. Sedang jawaban dari pertanyaan yang diajukan menjadi tidak penting lagi. Sebatas untuk berbasa-basi semata.

Mereka tidak mendapatkan jawaban. Keduanya bersama-sama, menjalani kehidupan seperti apa adanya. Semua berjalan seperti sedia kala. Berangkat ke sekolah dan pulang bersama. Sesampai di rumah, masing-masing sibuk dengan kesehariannya. Paidi dan Mirah membantu orang tua mereka sebisanya. Mengasuh adik-adik, bagi Paidi menjadi kebiasaan rutin. Sementara Mirah membantu memasak di dapur ibunya.

Mereka tidak membuat rencana, juga tidak merekayasanya. Mereka tidak hendak melakukan sebelum saatnya. Semua berjalan sesuai kehendak alam. Biarlah lingkungan yang membentuknya. Bahkan menghadapi sekolahnya juga demikian. Semua berjalan apa adanya. Paidi menyerahkan saja kepada perjalanan nasib yang akan membawanya kemanapun pergi. Rencana yang dibuat sebatas dalam angan-angan belaka. Syukur kalau dapat menemukan harapan. Kalaupun tidak rencana yang dibuat hanya dia sendiri yang mengetahui. Tidak mendatangkan permasalahan di kemudian hari.  (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *