Home / KEMAT / KH Shaleh Darat-3: Penerjemahan al-Qur’an dalam Bahasa Jawa

KH Shaleh Darat-3: Penerjemahan al-Qur’an dalam Bahasa Jawa

Inilah Kiai Shaleh. Selanjutnya dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat. Nama Darat diperoleh dari sebutan masyarakat pada tempat tinggal KH Saleh yaitu di Kampung Darat. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

Memang, sejak lama para ulama selalu menambahkan nama daerah asal di belakang namanya. Misalnya saja, Al Bantani (Banten), Al Maduri (Madura), Al Banjari (Banjar). Melihat itu, KH Shaleh juga meakukan hal yang sama. Ia menggunakan nama Muhammad Shaleh bin Umar Al Samarani yang bearti dari Semarang.

Kembali  dari Mekkah, KH Shaleh Darat mengajar di Pondok Pesantren Darat. Pesantren ini, milik mertuanya, KH Murtdlo. Setelah dipegang KH Shaleh, pondok pesantren berkembang pesat, karena santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah di pulau Jawa.

Nama-nama yang kelak menjadi ulama ternama ikut menima ilmu pada Kiai Shaleh. Antara lain, KH Hasyim Asyari (Tebuireng), KH Ahmad Dahlan (Kauman Jogja), KH Munawir (Krapyak Jogja), KH Mahfudz  (Termas Pacitan).

Dan, salah satu muridnya yang istimewa dan juga terkenal tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Selama ini, Kartini hanya dikenal sebagai pahlawan emansipasi, padahal ia juga menimba ilmu Islam dari tokoh terkemuka sekelas KH Shaleh Darat.

Kehadiran RA Kartini, bahkan menginspirasi Kiai Shaleh Darat menjadi pelopor penerjemahan al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Kisahnya dimulai saat Kartini punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam.

Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an. Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Shaleh Darat.

Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Shaleh Darat. Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *