Home / PMD / Indonesia bisa Menjadi Kiblat Toleransi

Indonesia bisa Menjadi Kiblat Toleransi

Komite Mahasiswa dan Pemuda Reformasi (KMPR), menggelar diskusi publik, di Jakarta, Rabu, 25 Juli 2018.

Tema besar yang diangkat dalam diskusi ini adalah Pemahaman Nilai Pancasila di Masyarakat untuk Menangkal Propaganda Paham Radikal. Tiga pembicara utama dihadirkan masing-masing, Setiawan, mantan aktivis dan pendiri NII Crisis Center, Anas Saidi peneliti LIPI yang juga Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP), serta M Basir, Kanit Binkamsat Satbinmas Polres Jakarta Pusat.

Menurut Ken Setiawan, pemikiran radikal berbahaya, karena kelompok ini beranggapan Pancasila adalah berhala atau thogut dan  hukumnya wajib ditinggalkan. Dalam interaksi sosial, mereka sudah sudah tidak lagi menghargai dan mengakui orangtua, para kiai, tokoh agama yang dianggapnya tidak sejalan dengan kelompoknya.

Ken yang paham betul dunia radikal memprediksi, kelompok radikal akan terus melakukan perekrutan dengan sistem multi level dan akan bertambah terus-menerus. Kelompok radikal ini selain menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa, mereka juga mulai masuk ke sel-sel perusahaan dengan menyasar kalangan buruh pabrik.

“Pertambahannya akan sangat cepat, satu merekrut lima, kemudian menjadi sepuluh dan seterusnya. Ini menjadi pengalaman buruk yang terjadi pada saya beberapa tahun lalu,” ujar Ken Setiawan.

Sementara M Basri mengungkapkan, harus ada upaya untuk meredam pemahaman dan pemikiran radikal yang terjadi saat ini. Sebab bila pemikiran radikal terus berkembang, dikhawatirkan Indonesia akan mengalami perpecahan. “Kalau sudah pecah, 20 atau 50 tahun ke depan cukup sulit untuk melihat Indonesia yang kondusif,” katanya.

Menurut Anas Saidi,  pemahaman radikal dalam sejarah dimulai ketika munculnya kelompok khawarij dalam pertarungan politik memperebutkan kekuasaan politik setalah nabi wafat. Dalam perkembangannya, radikalisme di Indonesia dapat dilihat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. “Terjadi pertentangan yang sangat tajam antara pemahaman agama yang radikal dengan pemahaman agama rahmatan lilalamin,” kata Anas.

Padahal menurut Anas, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang paling cocok sebagai rujukan toleransi dan demokrasi terbesar. Anas berkeyakinan karena Pancasila sangat compatibel dengan Islam dan Pancasila juga tidak bertentangan dengan Islam.

“Indonesia bisa menjadi kiblat toleransi. Hanya saja kelemahan sekarang adalah terlalu surplus wacana minim tindakan nyata” kata Anas Saidi. Turut hadir dalam diskusi publik, Ketua Panitia Pelaksana Doddy Sahrudin dan Ketua KMPR Gunawan Al Bima. (zi)

About redaksi

Check Also

Warga Polodadi Kulur Temon terapkan Tatanan Kehidupan Baru

Temon, Kabarno.com – Guna pencegahan penyebaran virus Covid-19 di wilayah Kulur, Temon, Kulon Progo di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *