Home / KANGBARNO / Siti Maryam Dampingi Alumni Pelatihan Bisnis

Siti Maryam Dampingi Alumni Pelatihan Bisnis

Tiada hari tanpa belajar merangkai bunga, bros dan barang lain. Aktivitas itu terus dilakukan oleh alumni Inkubasi Bisnis Outwall (IBO) Tahab Awal. Pelatihan ini, menghasilkan semangat ibu-ibu di RT 03 RW08 Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Hasil kerajinan yang dibuat ibu-ibu sudah baik. Tinggal sentuhan terakhir sudah layak dijual. “Tinggal pemasarannya yang butuh penanganan serius,” kata Siti Maryam penyelenggara IBO Tahal Awal.

Siti Maryam memang serius mengawal para alumni Inkubasi Bisnis Outwall Tahap Awal. Terutama dalam proses membuatan Kerajinan Akrilik yang sangat menjanjikan.

Selama ini, Siti Maryam memang sangat perhatian, terutama dalam urusan pemberdayaan perempuan. Ia juga banyak melakukan pekerjaan sosial, terutama di lingkungannya. Selama ini, dunianya, tidak pernah jauh dari bangku sekolah. Benar. Siti Maryam memang seolah sudah disiapkan untuk membantu mencerdaskan masyarakatnya.  Ia sudah mengajar sejak masa remaja, sejak masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah.

Menjadi pengajar memang cita-cita kecilnya. Maka sejak belia, ia sudah berlatih mengajar anak-anak, membaca dan menulis Al Quran. Menginjak madrasah aliyah mengajar majelis taklim di kampung-kampung. Setamat pendidikan tinggi, kegemaran mengajar tetap melekat hingga kini.

Selepas sekolah dasar (SD) tahun 1982, Muhammad Salim, orangtuanya mengantarkan ke Pendidikan Islam El Nur El Kasysyaf (PINK) Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Masuk pesantren tidak langsung diterima, harus mengikuti pelajaran tambahan setahun untuk menyelaraskan ilmu SD dan madrasah. Baru tahun kedua resmi diterima sebagai santri.

Selama di pesantren hingga menamatkan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Shalahuddin Al Ayyubi (Inisa) di kampus yang sama. Maryam terus mengajar hingga menjalani rumah tangga, bahkan ketika kedua anaknya berangkat remaja dan dewasa. Belajar dan mengajar  sudah menyatu menjadi jiwa yang tidak terpisahkan. “Belajar itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat, dari sejak lahir hingga akhir hayat,” katanya setiap kali menyampaikan mauidhoh hasanah dalam setiap taklim yang dilakukan.

Selain mengajar klasikal, belajar di kelas di sekolah formal dan informal. Mengajar juga di masyarakat, di masjid, mushala dan majelis taklim. Lebih dari itu mengajar di masyarakat melalui taushiyah, menjadi daiyah hingga ke pelosok kampung.

Aktivitasnya yang setumpuk masih ditambah mengurus organisasi di lingkungan pendidikan. Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi), Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK), Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI). Di organisasi kemasyarakatan menjadi pengurus Muslimat Nahdlatul Ulama, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT). Di organisasi politik menjadi pengurus Perempuan Partai  Kebangkitan Bangsa. (mg)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *