Home / KEMAT / Gunung Lawu-3: Candi Sukuh yang Alirkan Kisah Mistik

Gunung Lawu-3: Candi Sukuh yang Alirkan Kisah Mistik

Memasuki Sukuh, peziarah akan disambut gapura Paduraksa atau pintu gerbang yang beratap. Tapi gerbang ini dipagar, untuk melindungi lingga dan yoni, rielief tua yang sering dipahami secara kasar sebagai sebuah pertemuan alami laki-laki dan perempuan.

Batu berukir itu, memang sengaja dipagar. Selain karena untuk menjaga kesakralan, barangkali karena selama ini beredar cerita palsu bahwa lingga dan yoni itu, bisa dipakai untuk mengetahui apakah seorang perempuan masih perawan atau tidak. Padahal, sesungguhnya makna relief ini, jauh lebih mendalam dari sekadar itu.

Masih di sekitar Paduraksa, lihatlah di sisi utara. Ada ukuran batu yang menggambar raksasa menggigit ular. Bacalah di sana, sebuah kalimat yang merupakan sengakalan memet atau angka tahun yang disamarkan dalam sebuah sanepa; gapura buta anahut buntut, gapura raksasa menggigit ekor (bermakna angka 1359 Saka).

Membaca sengalan memet itu, dapat dipercaya bahwa Candi Sukuh usai dibangun tahun 1359 Jawa atau 1437 Masehi. Meninggalkan sisi utara, tongoklah sayap selatan. Jika di utara ada raksasa menggigit ular, di selatan muncul raksasa memakan manusia. Di tempat ini, dapat ditemukan pula sengkalan memet berbunyi gapura buta mangan wong, gapura raksasa memakan manusia. Makna kalimat itu, masih sama; menyembunyikan angka 1359 Saka atau tahun 1437 M.

Selepas membaca banyak sasmita di gapura Paduraksa, mulailah meniti teras demi teras. Ada relief di pojok kiri teras. Jumlahnya tiga. Dari teras ini, masuk teras dua, disambut gapura bentar. Tidak ada ornament yang ditemukan di sini sealin batu-batu yang mulai rapuh. Beberapa ukiran di atas batu, terkubur tanah, seolah tak memiliki kaitan apapun.

Menapaki teras ketiga, gapura bentar kembali menyambut. Kondisinya mengenaskan. Sebab, dua Dwarapala yang ada di sini, termakan usia. Para peziarah menganggap, teras ini amat sakral, karena merupakan pusat kesucian Sukuh. Trapesium berukuran 15 meter persegi dengan tingga 6 meter, menjadi penanda kesucian itu.

Bagi penghayat kebatinan, tempat ini, menjadi pusat pangruwatan manusia. Relief yang berkisah tentang Sudamala dan Garudheya (sebuah kisah ruwatan) menunjukan teras ketiga ini merupakan tempat bersesuci, melepaskan segala kekotoran.

Selain cerita Sudamala, relief yang seperti memenehui teras ini, banyak menyimpan tanda-tanda gaib. Arca tanpa kepala, atau relief lingga (yang juga dapat ditemukan di tengah candi bagian atap) seakan mengisyarakatkan sebuah kehidupan.

Candi Sukuh memang mengalirkan kisah mistik yang sangat kental. Sementara di depannya, ada candi yang lebih kecil, dikenal sebgai Candi Perwara. Di sana, arca-arca tanpa kepala, dalam ukuran kecil, menjadi penghias candi. Arca setengah meter itu, diyakini sebagai personifikasi Ki Pacitro yang juga dipercaya sebagai Ki Ageng Sukuh.

Berada di ketinggian 900 mdpl, Candi Sukuh berdiri di lereng barat Lawu. Secara administratif, masuk Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *