Home / PMD / Desa Hargorejo dadi Pelopor Tradisi Minum Rempah Merah

Desa Hargorejo dadi Pelopor Tradisi Minum Rempah Merah

Peserta Sosialisasi Konsep Gerakan Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah,
Ringin Ardi, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo, 4 Desember 2018

“Selamat dan semoga sukses khususnya saya sampaikan kepada bapak dan ibu yang nantinya akan jadi warogo (panitia), yang sudah menyatakan kesiapannya. Sebagai bagian dari pemda Kulon Progo, kami mengucapkan terimakasih sekali atas inisiatif Bakor PKP untuk kemajuan Kulon Progo.

“Salah satu inisiatif yang fokus pada bagaimana memanfaatkan potensi Kulon Progo, dengan cara membangkitkan budaya minum rempah merah dan makan ikan, adalah inisiatif yang patut diapresiasi. Rempah Merah sabagaimana dijelaskan oleh Pak Agus, hanyalah wadah, isi terserah ! Mau wedang uwuh, wedang secang, wedang jahe merah, wedang rosela, atau wedang kapulogo semua punya andil yang sama. Tapi akan sangat bagus kalau semua minuman yang berbahan rempah warnanya merah itu, masuk semua dan berkolaborasi menjadi bagian dari tradisi ini. Sekali lagi kami sangat bangga dengan kiprah Bakor PKP untuk kemajuan Kulon Progo,” ungkap Sudarna, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo saat menyampaikan closing statement, Sosialisasi Konsep Gerakan Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah, di RM Bale Semar, Ringin Ardi, 4 Desember 2018.

Acara yang dihadiri oleh 27 orang dari 33 undangan tersebut, merupakan tindak lanjut dari Surat Bakor PKP No 24/Bakor PKP/IX/2018 perihal Risalah dan Rekomendasi Bakor PKP hasil Raker Cipayung 2018, kepada Bupati Kulon Progo. Hadir cukup lengkap dari unsur Pemda Kulon Progo, lembaga pendidikan, lembaga kemasyarakatan dan pegiat literasi dan pemberdayaan masyarakat. Dari Pemda Kulon Progo, tampak hadir dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas DPMPDKB Dalduk, Dinas Pendidikan serta Warsidi, Camat Kokap. Dari lembaga pendidikan, hadir H. Rahmat Raharja, S.Pd, M.Pd, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS SMK), Drs. Ambar Gunawan, Ketua MKKS SMU, dan Sugeng Widodo, M.Pd, Si, Ketua MKKS SMP Kabupaten Kulon Progo.

Dari Musyawarah Kerja Mata Pelajaran (MGMP), tampak hadir Yuli Ruwiyati, Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP. Dari lembaga kemasyarakatan, hadir Tim Penggerak PKK Kecamatan Kokap lengkap dengan Ketua Pokja I-IV, perwakilan petani rempah, pengusaha minuman rempah, pengepul dan distributor rempah. Tampak hadir pula Tusilah, mewakili Ketua Yayasan Cabida. Yayasan Cabida adalah lembaga yang dibentuk oleh para mantan konsultan PNPM Mandiri asal Kulon Progo, pada awal tahun 2015.

“Di Kokap ini masih sangat tinggi tingkat kemiskinannya. Saya bertekad, Kokap harus maju. Saya yakin kalau nanti bisa terbentuk perkumpulan seperti yang digagas oleh Bakor PKP ini (Tradisi Minum Rempah Merah) maka akan sangat mudah untuk pengentasan kemiskinan di kecamatan ini,” ungkap Warsidi, Camat Kokap sambil menceriterakan potensi dan komitmen warga perantau yang pernah ditemuinya di Jakarta saat mendampingi salah satu warganya yang harus operasi jantung ke Jakarta. Kepedulian perantau sungguh merupakan potensi yang luar biasa bila kita mampu mengelola dan memberdayakannya.

“Hari ini saya sangat gembira arena dapat ilmu tentang Konsep Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah dan Makan Ikan. Karena apa yang disampaikan oleh Bakor PKP ini akan menjadi pengungkit bagi kemajuan pembangunan berbagai aspek di Kecamatan Kokap khususnya dan Kulon Progo pada umumnya. Oleh karenanya gerakan ini harus kita dukung bersama,” lanjut Camat, yang terpaksa harus segera meninggalkan forum karena ada rapat di Yogyakarta.

“Sebuah program yang sangat bagus, kaitannya dengan pengembangan kebudayaan dan ekonomi kerakyatan. Sangat baik dimulai dari satu desa, dalam hal ini Desa Hargorejo. Dan jauh ke depan, diharapkan Desa Hargorejo akan menjadi pioneer budaya baru ini. Kami akan mendukung kegiatan ini sesuai dengan kapasitas kami, khususnya di lingkungan SMP,” ungkap Sugeng Widodo.

“Kami menyambut sangat baik terhadap ide dan gagasan Tradisi Minum Rempah Merah ini. Kami juga sepakat bahwa “Tradisi Minum Rempah Merah” hanyalah sebagai sarana kumpul-kumpul berkomuikasi yang memiliki fungsi koordinatif, edukatif, konsultatif dan rekreatif, sehingga dengan sarana tradisi yang akan diselenggarakan setiap bulan ini, masyarakat dapat mengurai berbagai persoalan pembangunan di wilayahnya. Kami menangkap adanya spirit ideologis yang sangat bagus dalam konsep tradisi ini, sehingga kami sangat mendukung dan optimis bahwa tradisi ini akan bisa menjadi solusi di negeri ini”, ungkap Rahmat Raharja, Ketua MKKS SMK Kulon Progo.

“Kami dari dunia pendidikan tentu akan banyak menitipkan aspirasi untuk mewarnai tradisi ini sekaligus mendapat berbagai solusi. Sangat menarik bila dalam setiap ritual Minum Rempah Merah itu diawali dengan teatrikal yang berbasis kebangsaan dan keadaban. Tradisi melafalkan Sumpah Pemuda, Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum kegiatan diskusi, sangat layak diapresiasi. Dan saat ini yang masih menjadi keprihatinan kami dan perlu dukungan dari semua pihak adalah pendidikan karakter. Semoga dengan tradisi ini, kita bisa berkolaborasi dan berkreasi menemukan fomasi atau cara terbaik untuk membentuk karekter generasi. Sekali lagi kami sangat setuju kegiatan ini diawali dari sebuah ideologi yang bagus. Dan kami dari jajaran MKKS siap mendukung bilamana kami dilibatkan”, lanjut Rahmat.

“Kami hanya ingin menyampaikan usul saran, bahwa membangun sebuah tradisi itu perlu waktu yang panjang, energi yang besar, konsistensi dan harus melibatkan generasi muda. Sehingga tidak terjadi gab antara generasi tua dan muda. Pernah diskusi dengan Pak Wahyu, Kades Panggunghajo, Pandak, Bantul, Juara Lomba Desa Tingkat Nasional Tahun 2014, beliau menyatakan bahwa untuk membangun budaya itu perlu setidaknya selama 10 tahun. Maka perlu dipertimbangkan dari aspek kontinuitas, pembiayaan dan sebagainya. Oleh karenanya semua pihak harus bersinergi”, papar Riky, aktivis Moeda Institute, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

“Kami punya pengalaman dalam membranding Kulon Progo melalui lagu-lagu yang kita upload ke youtube khususnya, ternyata sangat efektif dan cukup mendapat respon yang sangat positif. Kami yang membuat lagu Ngapa Tuku, Madep Mantep Mangan Hasile Dewe, Plesiran Neng Kulon Progo, Jamu Jawa Kulon Progo, ke depan Duren Kalibawang dan yang masih dalam proses adalah Bandara Kulon Progo. Kami tidak menyangka lagu saya sudah banyak dinyanyikan oleh orang-orang di Bengkulu, Lampung, bahkan Papaua dan lain sebagainya. Lagu Plesiran Neng Kulon Progo, kami cek ternyata sudah dilihat oleh 15.000 orang dan dalam sehari, rata-rata dibaca oleh 2.000 orang” ” ungkap Drs. Mardiyo yang akrab dipangil Pak Ndut, Kabid Dalduk Dinas PMD Dalduk dan KB.

“Oleh karena itu, kami berfikir, nantinya kalau konsep ini disepakati sebagai ikon Kulon Progo, maka kita dapat membuat lagu Rempah Merah Kulon Progo”, imbuh Mardiyo.
Perihal potensi Kulon Progo, Ahmat Athoilah, sejarawan dan kandidat Doktor Sejarah UGM yang rumahnya di Samigaluh, mengisahkan adanya sejarah Kulon Progo yang mungkin dapat diolah sebagai potensi wisata literasi maupun ekonomi. Kokap dalam sejarahnya pada sekitar tahun 1869 pernah menjadi gudang kopi terbesar di Kulon Progo. Dalam era yang sama, Wates adalah gudang garam terbesar di Kulon Progo. Di era tersebut, Kokap masuk wilayah Kab Nanggulan, Sermo pusat distrik terkenal dengan hasil perkebunan dan jamu-jamuan. Kisah yang menarik lagi, di kala HB IX dan Sri Paduka VIII yang punya hobby berburu. Suatu ketika berkenan mampir ke kediaman lurah Hargorejo, ayahanda Bapak Umar Sanusi, yang kini tinggal di Pripih. Dalam kunjungan bersejarah itu, Ngersa Dalem sempat salah sangka terhadap minuman yang disuguhkan. Beliau mengira susu khas Kulon Progo yang ternyata adalah minuman namanya bajigur,” ungkap Ahmad yang telah menulis buku Sejarah Kulon Progo.

Siti Rupiah, pengusaha minuman rempah didampingi oleh petani rempah dan pedagang rempah, mengisahkan bagaimana mereka merintis usaha wedang uwuh. Siti adalah salah sati binaan Dinas Pertanian yang telah berhasil menyabet prestasi nasional. Sebagai sosok pengusaha yang berhasil berkat binaan pemerintah, Siti siap sedia untuk memberikan binaan, pengalaman bagaimana masyarakat semakin paham tentang arti dan makna rempah dan jamu yang sangat besar artinya dalam meningkatkan kesehatan sekaligus kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Termasuk untuk memberikan binaan kepada generasi muda, pelajar dan mahasiswa, Siti dengan senang hati untuk siap berbagi.

“Tradisi Makan Ikan, adalah ide spontan yang muncul saat saya merevisi lampiran surat undangan. Menyadari saat ini sedang digencarkannya Gemar Makan Ikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan agar generasi kita terhindar dari stunting (cebol), maka apa salahnya kalau tradisi Minum Rempah Merah nanti dipersandingkan dengan Tradisi Makan Ikan. Membayangkan betapa cocoknya makan mangut lele atau gurame dan sebagainya, kemudian minumnya wedang uwuh, maka spontan tergambar kuliner khas Kulon Progo yang akan banyak diburu orang,” jelas Agus Triantara, Sekum Bakor PKP sekaligus penggagas Sesaba Kulon Progo dan Rempah Merah.

Agus juga menjelaskan bahwa yang menarik pada Sosialisasi Sesaba Kulon Progo dan Tradisi Minum Rempah Merah ini karena mengambil mumentum launching buku biografi Bapak Sumarjono, salah satu putra terbaik Dusun Anjir, Desa Hargorejo, Kokap. Alumni SMA 1 Wates tahun 1987 ini, saat ini menjabat sebagai Direktur Perencanaan Strategis dan TI BPJS Ketenagakerjaan RI. Bukunya berjudul Nami Kula Sumarjono yang ditulis oleh Sdr Irwan, Humas Bakor PKP, akan menjadi salah satu fokus bahasan dalam Tradisi Minum Rempah Merah.

“Dengan demikian, maka sosialisasi ini tidak terhenti di ranah diskusi dan obsesi, namun akan langsung berlanjut pada ranah aksi. Oleh karenanya, besuk hari, Rabu tanggal 5 Desember 2018, kebetulan adalah jadwal pertemuan rutin TP PKK Desa Hargorejo, langsung akan kita bentuk kepanitiaan pelaksanaan Uji Coba Tradisi Minum Rempah Merah dan Makan Ikan. Jadi agenda hari H, rencananya, Jumat, 21 Desember 2018 siang sampai sore adalah acara Sewu Dino Ibunda Bapak Sumarjono di Dusun Anjir. Kemudian sore atau malam harinya dilanjutkan dengan Uji Coba Tradisi Minum Rempah Merah di Bale Desa Hargorejo. Dari Pengurus TP PKK Pusat insya Allah akan hadir menyaksikan dan memantau proses uji coba Tradisi Minum Rempah Merah,” ungkapnya.

“Pada hari Sabtu, 22 Desember 2018, kita akan undang seluruh Panitia Pengarah, Panitia Pelaksana, pendukung kegiatan dan sponsor, untuk mengevaluasi atas pelaksanaan tradisi tersebut. Masukan-masukan apa, serta inovasi dan pengembangannya apa, akan menjadi bahan laporan dan rekomendasi kepada Bupati. Dan saya berharap, kegiatan tradisi ini nanti tidak terhenti hanya sekali, tapi langsung berlanjut kita selenggarakan setiap bulan sekali,” lanjutnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, bahwa apa yang sedang kita gagas ini sesungguhnya proyek besar kita sebagai anak bangsa. Sekalipun dengan kendaraan Bakor PKP, kita tidak hanya sedang berbuat sesuatu untuk Kulon Progo, namun sekaligus untuk Indonesia. Agus sudah mengkondisikan di jajaran pemerintahan pusat, khususnya di Ditjen Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri dan TP PKK Pusat, sehingga bila uji coba di Hargorejo ini berhasil, insya Allah Bakor PKP akan merekomendasikan lebih lanjut agar Hargorejo bisa ditetapkan menjadi Percontohan Tradisi Minum Rempah Merah secara nasional.

Ditanya tentang mengapa harus rempah merah, Agus menjawab bahwa motif Tradisi Minum Rempah Merah ini bukan sekedar motif bisnis atau ekonomi. Tradisi Minum Rempah Merah atau mudahnya disebut sebagai tradisi “Ngrempah Merah”, adalah sebuah gerakan moral-kultural yang sarat dengan misi kebangsaan dan keadaban. Apa itu ?

“Kita wujudkan dulu tradisi itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang penting kita segera ada pijakan nyata, baru nanti kita akan bertahap memahami spirit kebangsaan dan keadaban yang diusung dalam tradisi ini. Ijinkan kami bermimpi, Bapak dan Ibu yang merealisasi. Dan jangan khawatir, kami akan selalu hadir untuk mendampingi,” ungkap Agus mengakhiri diskusi.
Acara berakhir tepat pada pukul 12.00 dan dilanjutkan makan siang serta berfoto bersama. (yan)

About redaksi

Check Also

Bebas denda pajak PKB dan BBNKB diperpanjang hingga Desember 2020

Wates, Kabarno.com – Mendasar Peraturan Gubernur nomor 82 tahun 2020 tertanggal 21 september 2020, bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *