Home / KEMAT / Cupu Kiai Panjala-4: Lembar demi Lembar yang Membuat Berdebar

Cupu Kiai Panjala-4: Lembar demi Lembar yang Membuat Berdebar

Dan, malam pun tiba. Upacara yang ditunggu sepanjang tahun, dimulai. Orang-orang yang seharian sibuk mempersiapkan diri, telah duduk rapi. Sebagian besar (terutama yang berasal dari trah Kiai Sayek) berbusana Jawa lengkap. Hanya beberapa saja, yang bersorjan dan blangkon, tapi tanpa keris.

Sesaji sudah berjajar rapi. Nasi gurih dan ingkung ayam, adrem, abon kelapa, peyek kuning, dan peyek putih. Ubo-rampe kenduri itu, sebentar lagi akan disantap bersama-sama. Semua pengunjung wajib makan, caranya satu piring harus dihabiskan oleh dua orang.

Selepas tengah malam, upacara yang dinantikan datang. Ritual paling penting, membuka lawon, pembungkus cupu Kiai Panjala. Semua orang berdebaran, menduga-duga, sasmita apa yang akan dikirim oleh tiga pusaka peninggalan Bagus Sayek itu. Detik demi detik, terasa mencekam. Saya merusaha merekam betul, dalam benak, apa saja yang akan muncul tengah malam itu.

Lawon pertama dilolosi. Mereka yang bertugas membuka mori, berseru, kemule garing kemrisik. Selimut (Kiai Panjala) kering. Tapi pada kain kafan pertama itu, ada sepertiga bagian yang kotor. Pertanda itu, secara berantai, diteruskan oleh orang-orang yang berkerumun, sehingga terdengar oleh mereka yang berada di luar arena upacara.

Pada kain kafan yang kering kemrisik itu, muncul gambar telapak tangan kiri, di sisi barat laut. Gambar itu tidak sendirian, karena pada arah yang sama terlihat gambar wayang dengan tokoh Gatutkaca.

Kain mori kedua dibuka. Terlihat nglemer atau lemas-lunglai, agak lembab. Pada kain itu, muncul gambar gajak dengan kaki belakang jongkok sedang dua kaki depan nongkrong. Arahnya dari sisi kain sebelah barat. Masih pada posisi sama, juga ada gambar anak kecil berkacak pinggang, menghunus pistol.

Selain dua gambar itu, di kain kedua ini, juga dapat ditemukan bentuk ikan air tawar, di arah barat daya. Juga, gambar perempuan santai menghadap ke timur. Sedangkan di sisi timur, muncul kepala naga menghadap utara. Lalu, di bagian barat laut, dapat dilihat gambar kelinci serta kepala orang, pria-wanita.

Begitu seterusnya. Pada Oktober 2013 itu, saya menyimak dengan hati berdebaran. Saya sengaja tidak meneruskan tulisan ini dengan melihat gambar-gambar yang bermunculan di setiap lembar mori. Sebab, memang banyak pertanda gaib yang bermunculan. Dan, seperti biasa, masyarakat selalu mengaitkan pertanda yang muncul dari mori Cupu Kiai Panjala, dengan peristiwa yang akan terjadi.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.¬† Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *