Home / CAKRUK / CAKRUK 3: Ini Tentang Legenda Cakruk Senior

CAKRUK 3: Ini Tentang Legenda Cakruk Senior

Cakruk tetep sepi, namun Kibawang tidak putus asa. Dipukul lagi keras keras kentongan besar dari pokok pohon kelapa, karya dari Mbah Sono Radiman yang disumbangkan untuk cakruk.”tong..tong..tong…” suara kentongan menggema sampai sudut sudut kampung nJombokarto.

Namun suasana tetep sepi. Kibawang semakin kesetanan memukul kentongan..memukul tiang cakruk… memukul dinding dinding cakruk.. “Wong ediyan…” kata kang Barno meninggalkan cakruk.

Mendengar suara kentongan dan suara cagak listrik dipukul dengan ngawur, Kiai Kampleng sesepuh perbatasan Kauman dan mBanaran bergegas mengayuh sepedanya mendekati cakruk. Begitu melihat kemenakannya sendiri yang di sana, beliau menggumam, “Cah ra kalap..” lalu putar balik menuju cakruk protelon yaitu rumah mbah Juru.

Setibanya di sana Kiai Kampleng  seperti biasanya. Duduk bersila dan bersandar di pilar atau pojokan rumah alm mbah Juru. Jika sudah begitu, ritualnya sudah dihafal orang satu kampung: duduk menyandar tembok dengan tubuh merendah, jempol tangan kanannya sesekali mengurut tembok untuk mendapat kampur yang dijadikan perekat nyabuti jenggot.

Tidak berselang lama dari arah utara muncul dua sekawan. Kang CP dengan ketawa mirip orang sakit mengi dan Masko disusul Lek Sandhot dengan suara tawanya yang khas ngakak disertai batuk. Sembari ngobrol ngalor-ngidul mulailah datang satu persatu. Ada dari arah wetan Kang Jidin dan Lek Lembet. Dari arah barat Kepek dan Masrus  diikuti mas Winthol, mbah Kuncung, Lek Luyot.

Setelah merasa formasi lengkap Kiai Kampleng membuat odo-odo undian jago, sekadar untuk iseng dan lucu-lucuan tentu saja. Harganya juga masuk akal. “Iki ono jago. Ayo dilotre. Murah wes tinimbangane doh nglangut,” suara serak enteng khas Kiai Kemat menyela guyonan. Semua kompak. “Yo ayo.”

Maka empat orang ambil posisi sesuai undian tempat. Setelah itu Lek Sandhot ambil posisi dipojok lor kulon, Masko dipojok kidul kulon, Kang CP lor wetan dan Mbah Kuncung di kidul wetan. Sementara yang lain mbotohi supaya suasana regeng.

Itulah yang seru, mereka adalah komunitas undi-mengundi yang sangat kondhang kawentar. Meskipun sebenarnya hanya untuk bersenang-senang sambil gojegan, berbagi kabar dan sebagainya. Dan itulah gambaran singkat suasana Cakruk protelon sebelah wetan ratan yang melegenda yang saat ini bergeser ke sebelah kulon ratan namun tanpa suasana undi-mengudi meski tetap dengan regeng yang sama.

Tapi sekarang, ada Cakruk online, yang lebih hokya, karena ya itu tadi, pengguawanya para linuwih. Lihat saja, belum apa-apa sudah komersil. Densus yang paling sensitif soal ini, karena beliau seorang abdi kamerentah sejati. Ya sudah, karena urusannya sudah ke soal kemersial, Cakruk bubar.(romi)

About redaksi

Check Also

Bela Beli Kulon Progo-2: Masyarakat itu Asalnya tidak Memiliki Jiwa Entrepreuner

Bagaimana tanggapan masyarakat dan bagaimana mengajak masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri? Masyarakat senang sekali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *