Home / KEMAT / Belajar Lugu dari Kadilangu-6: Tentang Hutan Beraroma Langu

Belajar Lugu dari Kadilangu-6: Tentang Hutan Beraroma Langu

Tersebutlah tahun 1472. Dari sinilah, kisah tentang sumur itu dimulai. Sumur yang erat riwayatnya dengan peran Sunan Kalijaga. Kabar tentang kehadiran Kalijaga yang waktu itu masih memakai nama Joko Said, terdengar nyaring hingga ke Demak.

Raden Patah meminta Joko Said datang ke keraton. Sebagai penyebar Islam, Said memang dikenal memiliki banyak ilmu pengetahuan. Ilmu yang diperoleh saat berkelana. Ilmu itulah, yang menurut oleh Raden Patah akan berguna untuk kepentingan Demak.

Dan, kedatangan Joko Said mengingatkan pada perintah Sunan Ngampel. Sebuah permintaan yang belum terlaksana, untuk mendirikan masjid. Setahun kemudian, Raden Patah mengumpulkan seluruh wali yang ada di tanah Jawa. Sultan Patah meminta Joko Said memimpin para wali. Perintah itu berdasarkan keyakinan bahwa kepandaian yang dimiliki Joko Said dapat digunakan untuk mengatur dan menyelesaikan tugas.

Maka, pembangunan masjid segera dirancang. Tidak lama, masih di tahun 1473, masjid megah itu selesai dibangun. Sekarang kita mengenalnya dengan nama Masjid Agung Demak. Tentu saja, Raden Patah senang. Sebagai pemimpin yang terpandang, ia bangga memiliki masjid yang megah.

Sementara itu, Joko Said juga senang, karena melahirkan karya besar yang tak pernah lapuk. Hingga kini, karya besar berupa soko guru atau tiang utama masjid, masih berdiri kokoh.

Atas kesuksesan Joko Said melaksanakan tugasnya, Raden Patah memberikan hadiah tanah yang bebas dipilih. Tanah itu menjadi miliknya dan keturunan sepanjang masa.

Pilihan Joko Said jatuh pada suatu hutan belukar yang letaknya di dataran rendah di dekat Demak. Hutan yang berbau langu atau tidak sedap. Karena itulah, tempat tersebut dinamakan Kadilangu.

Sejak itulah, Kadilangu berkembang pesat menjadi pemukiman yang ramai. Setidaknya berdiri 27 daerah baik desa dan kota. Joko Said juga tidak lagi memakai nama kecil. Julukannya berubah menjadi Sunan Kalijaga.

Tahun 1488 Raden Patah naik tahta sebagai Sultan Demak. Kerajaan baru ini, menggantikan era Majapahit yang kejatuhannya terjadi sejak 1483. Raden Patah adalah raja, yang dikenal didukung oleh ulama-ulama besar dengan julukan Wali Sanga.(*)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.¬† Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *