Home / KEMAT / Belajar Lugu dari Kadilangu-5: Sumur yang Dialiri Tuah Sunan Kalijaga

Belajar Lugu dari Kadilangu-5: Sumur yang Dialiri Tuah Sunan Kalijaga

Bagi para peziarah, tempat ini cukup penting. Bahkan, banyak yang langsung ke sini, sebelum benar-benar melihat petilasan Kanjeng Sunan Kalijaga, di Kadilangu Demak. Benar. Inilah sumur tua yang dipercaya mampu membuat awet muda.

Letaknya tidak jauh dari masjid  Sunan Kalijaga. Sebuah sumur tua yang seusia dengan bangunan masjid. Di zaman dulu, pada kejayaan Wali Sanga, sumur ini adalah tempat wudu. Tapi kini, masyarakat luas (terutama peziarah) tidak hanya memakainya untuk berwudu, melainkan diambil airnya untuk dibawa pulang.

Mereka yakin air dalam sumur itu suci dan mengandung tuah Sunan Kalijaga. Terutama pada malam Jumat Kliwon, tidak sedikit masyarakat yang memadati Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu serta masjdnya.

Berdasar cerita turun-temurun, yang terus tersebar di kalangan para peziarah, air sumur ini konon berasal dari 7 sungai yang berbeda. Itu yang membuatnya memiliki berkhasiat. ”Sudah banyak yang membuktikan, yang mandi di sumur ini, sembuh dari segala penyakit yang diderita. Mereka yang punya cita-cita juga terkabul hajatnya. Sebelum mengambil air sumur dianjurkan untuk mengucapkan,” kata seorang warga di sekitar tempat keramat itu.

Sebelum melakukan aktivitas di sumur itu, para peziarah diminta untuk berdoa dan membaca Bismilahirrohmannirrohim. Setelah selesai, membacaAlhamdullilah. Tentang khasiatnya yang mampu membuat awet muda, juga banyak diceritakan orang. Apalagi, konon, umur Sunan Kalijaga bisa sangat panjang, mencapai 160 tahun, karena khasiat sumur tersebut.

Memang, sejarah mencatat, Sunan Kalijaga mengalami jaman yang berbeda-beda, sejak kerajaan Majapahit, kerajaan Demak, kerajaan Pajang dan kerajaan Mataram.

Pemandangan menarik, terjadi setiap malam Jumat Kliwon. Warga berdatangan dari banyak tempat. Mereka antre untuk mandi langsung dari air sumur keramat di petilasan Sunan Kalijaga tersebut.

Biasanya, pengurus sumur mengucurkan air sumur lewat selang, langsung ke kepala dan badan yang antre. Sudah pasti, tidak mandi seperti umumnya mandi di dalam kamar mandi, yang melepas seluruh pakaian.

Upacara mandi di sumur keramat dan sumur wasiat Sunan Kalijaga, kadang menjadi pemandangan yang menarik. Mereka, begitu khusuk menikmati kucuran air. Bahkan anak-anak yang biasanya riuh, tiba-tiba ikut takjim.

Dan, ritual mandi semakin ramai pada  Idul Adha yang biasanya disambung dengan tradisi Garebeg Demak. Saat itu, makam Kadilangu juga melakukan ritual jamasan (penyucian) tiga pusaka penting yang menjadi benda bersejarah; kutang Ontokusumo, keris Kiai Crubuk, dan keris Kiai Sirikan.

Selesai mandi misalnya, para peziarah, akan sama-sama mengeluarkan botol untuk membawa pulang air keramat itu. Kadang-kadang, juga ada yang membawa tong besar, atau jerigen. Mereka membawa banyak air untuk berbagai keperluan selama setahun.

Nah, mereka yang sudah mandi, tentu saja tidak langsung pulang. Sebab, masih ada ritual lanjutan yakni tirakatan sampai lewat tengah malam. Biasanya, diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali secara berjemaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rejeki yang banyak dan berkah, serta ditetapkan imannya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *