Home / DWIDJO / Api Cinta (68): Paidi Merasa Mirah Datang Dalam Tidurnya

Api Cinta (68): Paidi Merasa Mirah Datang Dalam Tidurnya

Sembari membantu Paidi menunggu sembarang makanan yang siap disantap. Hanya tajin, air beras yang panas mendidih. Meski hanya air beras yang tengah dimasak, terasa lezat.

Sedikit gula merah dan garam sudah membuat perut terasa nyaman. Sesekali Paidi menyantap growol, makanan yang terbuat dari singkong dikukus dan dilumat. Growol mudah didapatkan di pasar atau di warung sebelah.

Cukup dengan menyiapkan sejumlah keping uang logam, growol didapatkan sekedar pengganjal perut sampai menjelang siang. Kalau lagi tidak ada uang sama sekali, cukuplah makanan dari ladang. Ngganyong, nggarut, suweg, mbili, singkong, ubi atau apa saja yang dapat diambil untuk makanan sela. Lebih dari itu untuk keperluan makan pengganti beras yang mulai langka, karena harganya yang terus melambung membubung tinggi.

Paidi merasa Mirah datang dalam tidurnya. Semua itu terasa cukup bagi Paidi. Meski tidak sempat bertemu muka, namun pertemuan dalam mimpi serasa kemarau kering kerontang yang disiram hujan. Meski hanya gerimis kecil yang tidak sempat mendatangkan banjir, namun cukup mendinginkan suasana.

Bangun pagi-pagi sekali, Paidi langsung mandi. Tidak seperti biasanya, bermalas-malas ketika hari libur. Kali ini langsung bergegas ke sumur, mandi mengambil air shalat dan banyak berdoa. Entah apa saja yang diadukan kepada Sang Khalik, kali ini shalat subuh terasa sangat lama. Sampai menjelang terbit matahari, Paidi masih duduk tersimpuh. Entah apa saja yang terpikirkan dalam benaknya, entah apa yang tengah direncanakan.

Pagi ini Paidi merasa seperti mendapat rembulan, ketiban rizki. Memulai aktivitas seperti biasa. Ketika tidak sekolah Paidi membantu orang tuanya. Kalau di rumah membantu biyungnya. Atau ketika disawah membantu bapaknya.

Sekadar ndaut, mengambil bibit padi yang disemai untuk ditanam. Kalau tanaman padi mulai menghijau, Paidi membantu matun. Membersihkan sela-sela tanaman padi dari rumput-rumput liar atau hama-hama kecil yang siap memangsa batang padi.

Pagi itu Paidi sangat ceria, tidak seperti biasanya. Kali ini Paidi membantu orang tuanya dengan suka cita. Mengerjakan apa saja dengan mudahnya. Paidi menjadi ringan. Membantu menyiapkan makanan, membantu mencari makanan ternak. Atau sekedar berbelanja ke warung sebelah rumah. Membawa adik-adiknya, mengasuh mereka agar tidak merepotkan bapak-biyung yang menyiapkan keperluan rumah tangga.

Paidi ingin berkali-kali bertemu Mirah dalam mimpi. Meski hanya dalam mimpi. Karena untuk bertemu langsung, sangat tidak mungkin. Selain tempatnya jauh di metropolitan sehingga membutuhkan biaya tidak sedikit. Juga kesempatan ke kota tidak ada. Pergi ke kota, menjadi barang langka. Selain membutuhkan keberanian juga banyak persyaratan yang diperlukan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *