Home / KANGBARNO / Hari Ini, Mari Mengenang 226 Tahun Wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono I

Hari Ini, Mari Mengenang 226 Tahun Wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono I

Hari ini, 24 Maret 2018. Hari sangat penting bagi Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Duka terjadi, 226 tahun silam setelah Ngarso Dalam Sri Sultan Hamengku Buwono I, dipanggil ngayunaning Gusti. Raja pertama Jogjakarta itu, meningal pada yuswo sepuh, 75 tahun.

Kala itu, 24 Maret 1792 bertepatan dengan 1 Ruwah 1718 tahun Jawa. Pangeran Mangkubumi mangkat 11 hari setelah peringatan jumenengan ndalem yang diperingati setiap  tanggal pada 13 Maret.

Seperti diketahui, Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi raja pertama Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat pada 13 Maret 1755 atau 29 Jumadilawal 1680 tahun Jawa. Penobatan itu, adalah hasil Palihan Nagari atau yang populer disebut Perjanjian Giyanti yang resmi ditandantangani 13 Februari 1755.

Kesepakatan yang ditandatangani di desa Giyanti merupakan buah dari kisruh panjang antara Pangeran Mangkubumi, Sri Susuhunan Paka Buwono III dan pemerintahan Belanda. Selanjutnya, 23 September 1754, sebuah pertemuan digelar antara Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi. Hasilnya, kesepakatan untuk merancang apa yang disebut  Palihan Nagari.

Gubernur Jenderal Belanda maupun Paku Buwono III tidak bisa menolak. Tanggal 4 November 1754, terjadi kesepakatan yang kemudian melahirkan Perjanjian Giyanti menandai lahirnya Keraton Jogjakarta.

Pangeran Mangkubumi adalah putra Sunan Amangkurat IV yang diwaktu belia memakai nama Bendoro Raden Mas (BRM) Sujono. Tokoh yang keras pada pemerintah kolonial Belanda ini lahir pada  5 Agustus 1717. Ibundanya,   garwa selir sang Amangkurat IV bernama Mas Ayu Tejawati.

Sudah sejak kanak-kanak, BRM Sujono sudah cekatan, trengginas, dan lihai dalam glanden keprajuritan. Juga berbudi luhur, menjunjung budaya luhur, serta taat beribadah.  BRM Sujono sudah menjadi Pangeran Lurah saat seorang pamannya yang bernama Mangkubumi mangkat pada   27 November 1730. Nama pamannya itulah yang kemudian dipakai saat sudah dewasa.

Dalam  Serat Cebolek, dikisahkan Pangeran Mangkubumi yang gemar puasa Senin-Kamis dan saleh sebagai pemeluk Islam. Pada karya sastra itu pula, Njeng Pangeran dilukiskan senang berlaku prihatin, njajah deso milangkori, menjumpai orang-orang kecil, dan menolong mereka yang berkesusahan.

Kebiasaan menemui rakyat di banyak tempat itulah yang menjadi modal Pangeran Mangkubumi, saat melawan VOC pada 1746. Sebuah sumber menyebut, kekuatan sang pangeran mencapai 3.000 prajurit. Setahun kemudian, jumlah itu sudah menjadi 13.000 pasukan. Dengan  2.500 pasukan kuda, kekuatan bala Mangkubumi terus meningkat setelah semakin banyak rakyat yang bergabung.

Enam tahun sebelum mengangkat senjata dan menyatakan perang melawan Kompeni, Pangeran Mangkubumi termasuk pangeran yang loyal pada Mataram. Sosok religius ini, ikut memadamkan banyak pemberrontakan.

Kondisi yang berat memang dialami Mataram sejak tahun 1740 saat meletus peristiwa yang sampai saat ini dikenal sebagai Geger Pecina. Sunan Kuning memberontak, saat itu dibantu oleh Pangeran Sambernyawa. Oleh sebab pemberontakan ini, Keraton Kartosuro dipindah ke Surakarta pada 17 Februari 1745, setahun sebelum Pangeran Mangkubumi ikut memberontak karena kecewa berat.

Salah satu pemberontakan yang berat, ialah yang dilakukan Pangeran Sambernyawa. Sri Susuhunan Paku Buwono II bahkan sampai menggelar sayembara perang untuk memadamkan api pemberontakan. Sayembara ini dimenangkan oleh Pangeran Mangkubumi. Sejak itu, usaha sangat keras dilakukan Mangkubumi untuk mengurangi pengaruh VOC, meski ia justru kecewa karena langkahnya dikhianati oleh Patih Pringggoloyo. Pengkhianatan itulah yang membawa kanjeng pangeran meninggalkan istana dan bergabung dengan Pangeran Sambernyawa.

Duet dua pangeran utama Mataram itu, membuat keraton  bosah-baseh. Empat tahun sejak Mangkubumi angkat senjata, Paku Buwono II mulai ringkih sehingga pada 16 Desember 1949, Mataram sudah diserahkan kepada VOC melalui trakat penyerahan kekuasaan kepada pemerintahan kolonial Belanda. Melihat fakta itu, meski kemudian Paku Buwono III dinobatkan, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa semakin keras menggempur Belanda.

Berbagai peristiwa kemenangan diraih sampai Belanda ngeri sendiri. Bahkan Gubernur Jawa Utara, Baron van Hohendroff di Semarang memilih mundur. Dan, yang paling tragis, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff di Batavia mengalami tekanan batian yang hebat sampai meninggal.

Gubernur Jawa Utara yang ada di Semarang, selanjutnya diserahkan kepada Nicholas Hartingh, sosok yang kemudian menawarkan perdamaian. Dari sinilah, lima tahun kemudian, terjadi kesepakatan Palihan Nagari yang dilanjutkan dengan Perjanjian Giyanti, menjadi awal berdirinya Keraton Ngayogyokarto dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Dan, hari ini, 24 Maret 2018 adalah peringatan wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sudah 226 tahun, tokoh besar pendiri Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat itu menghadap Tuhan. Dipusarakan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri, Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan HB I, diangkat menjadi Pahlawan Nasional  pada tanggal 3 November 2006.(kib)

About redaksi

Check Also

Wong Nggunung Menunggang Gelombang

Kembali ke Bali, baru kali ini saya menunggang gelombang.  Belajar menjadi penjinak ombak. Bukan penjinak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *