Home / DWIDJO / Api Cinta (45): Mirah yang di Pinggir Lapangan Terpaku

Api Cinta (45): Mirah yang di Pinggir Lapangan Terpaku

Paidi-Mirah dalam beberapa hari ini tidak bertemu. Mereka berangkat ke sekolah sendiri-sendiri. Entah mengapa, Paidi tidak bertanya. Mirah juga tidak mempersoalkan. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di sekolah masih bertemu, ketika istirahat siang. Keduanya berpapasan ketika usai mengambil air sebelum shalat berjamaah. Mereka berpandangan, namun mereka seperti biasa.

Paidi sibuk dengan kegiatan olahraga. Maklum sebagai anggota tim sepak bola di sekolahnya mengharuskan banyak latihan. Menjelang clasmeeting sebelum memasuki masa libur sekolah. Pertandingan antarkelas menjadi kebiasaan. Kemenangan kecil cukup membanggakan. Masing-masing membanggakan kelasnya. Tim kelas dimana Paidi berlaga harus bertanding dengan tim dari kelas Mirah.  Keduanya membela kelas masing-masing, tidak jarang saling ejek pendukung terlontar.

Mirah yang di pinggir lapangan terpaku. Membela kelasnya akan berhadapan dengan Paidi. Sementara kalau harus membela Paidi yang bertanding akan berhadapan dengan teman-teman sekelasnya. Tinggal Mirah termangu. Seperti tidak bersemangat, meski dalam hati Mirah mati-matian membela Paidi. Kaki Mirah berpijak di dua sisi. Salah satu kakinya membela kelasnya. Sedang satunya lagi harus mendukung Paidi yang tengah bertanding.

Hatinya berjingkrak ketika Paidi melesat membawa bola ke tengah lapangan. Sejurus kemudian menjadi kecut ketika menyaksikan bola yang di kaki Paidi harus terlepas dibawa pemain lawan. Di lain kesempatan ketika mendekati gawang lawan, Paidi masih membawa bola di kakinya. Mirah harap-harap cemas, pemain lawan mengepung.

Tiba-tiba saja Paidi jungkir balik dihadang dua pemain lawan. Bola yang dibawanya mental meninggalkan lapangan hijau. Namun wasit yang mengatur jalannya pertandingan terlanjur meniup peluit panjang sambil berlari menuju titik putih.

Paidi berdiri mengambil bola. Menjadi eksekutor dari tentangan finalty yang diberikan wasit atas pelanggaran di kotak terlarang. Mirah makin kecut saja. Menghadapi pertandingan bola yang membela konsentrasinya. Seperti harus menghadapi buah simalakama. Memakan atau tidak memakan sama saja. Risiko bakal dihadapi. Membela kelasnya atau Paidi sama-sama menjadi pilihan sulit.

Ancang-ancang sudah dilakukan. Mirah makin berdebar saja. Hatinya makin tidak menentu. Bola masuk ke gawang hatinya senang, tapi tidak nyaman di antara teman-teman sekelasnya. Kalau bola tidak masuk ke gawang, hatinya remuk redam. Menjadi harapannya meski menjengkelkan teman-temannya. Mirah hanya dapat memajamkan mata. tidak kuasa menyaksikan pemandangan yang bakal dihadapi. Meski hanya bola bundar yang sering dilihatnya ketika pelajaran olahraga.

Kali ini benar-benar si kulit bundar mengharubiru gadis remaja yang berdiri di pinggir lapangan hijau. Mirah menjadi terpaku, terdiam bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak ketika bola benar-benar masuk ke gawang.

Paidi dilihatnya terbang, lari berhamburan di lapangan dengan diikuti teman-temannya. Layaknya pemain professional dari klub sepek bola internasional. Dikerubuti, diuyek-uyek bahkan sampai ke pinggir lapangan. Mirah hanya tersenyum tertahan menghadapi pemandangan yang baru disaksikan.(bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *