Home / DWIDJO / Api Cinta (126): Lebaran Nanti Pulang ya Nak

Api Cinta (126): Lebaran Nanti Pulang ya Nak

Seiring bertambahnya usia, pasti sudah banyak perubahan cara berfikir dan menyampaikan pandangannya. Pergaulan di kota dan luasnya pertemanan memungkinan dia mampu menyatakan pendapat secara lurus. 

Logikanya sudah mulai berjalan ditempa kehidupan yang mandiri. Hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menyelesaikan secara mandiri sudah menjadi kebiasaannya selama setahun terakhir ini.

“Lebaran nanti pulang ya nak,” Madanom menulis surat kepada anaknya. Pendek saja isi suratnya, cekak aos. Biyungnya berpesan untuk pulang kampung saat lebaran mendatang. Sekedar untuk makan ketupat bersama-sama. Meski hanya ditemani peyek dan apem cukuplah. Tidak terlalu mewah, juga tidak berlebihan. Seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya. Hanya makanan harian yang dihidangkan dalam suasana lebaran. Makan bersama sesudah Shalat Idul Fitri dan balalan, halal bi halal.

Menjelang lebaran Paidi sudah di rumah, berkumpul bersama keluarga. Tidak banyak perubahan, hanya kulit mukanya legam. Rambutnya agak lebih panjang dan mulai jarang. Jidadnya yang  lengar, makin terlihat ditambah rambut yang mulai rontok.  Badannya tetap saja kurus, hanya bertambah tinggi. Kumisnya mulai tampak tebal, pertanda pendewasaan diri mulai tumbuh seiring dengan bertambah usianya.

Kembali mereka bercengkerama di lincak, amben kecil yang menyatu dengan dapur sekaligus ruang kerja simbok. Masih seperti dulu, suasananya tetap redup menambah khidmat. Di sana-sini terdapat tumpukan daun kering, bekas pembungkus tempe dele. Sebab selain tempe dele, kesukaan keluarga kecil ini juga kepada tempe benguk. Tempe yang berasal dari kacang-kacangan seperti kacang koro. Ketika mendiskusikan berbagai permasalah, di tempat itulah suasana menjadi lebih meresap.

Growol menjadi menu sela, terkadang ketika musim paceklik menjadi menu utama. Makanan yang terbuat dari singkong, direndam, direbus dan ditumbuk. Growol yang mengeluarkan bau khas, tidak terdapat di makanan sejenis lainnya. Ada thiwul dan gadungan  namun growol memiliki cita rasa berbeda. Makanan pengganti nasi yang hanya ada di lereng Merapi bagian selatan. Ketika zaman perang, peranannya sangat membantu masyarakat. bahan makanan yang sulit diperoleh, growol menjadi katup pengaman untuk survive. Bertahan hidup di tengah kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.

Sambil menikmati makanan sela, Madanom membuka pembicaraan. Madsani menemani Paidi sambil terus mengunyah apa saja yang tersaji. Ketiganya terdiam sejenak. Masing-masing saling menunggu, apa gerangan yang akan disampaikan. Apa gerangan yang akan menjadi bahan pembicaraan.   Ketiganya sambil santai, tetap menikmati makam malam ala keluarga kecil ini.

Reuni kecil dari keluarga kecil berlangsung sederhana. Mereka melakukan seperti beberapa waktu sebelumnya. Ketika mereka melakukan hal sama, menyantap makanan yang sama di tempat yang sama.  Mereka ingin mengembalikan suasana yang sama, indah dan menentramkan.  Suasana yang harus selalu ada kapan dan di manapun mereka berada.  Mereka tidak ingin melewatkan sedikitpun kesempatan yang mulai jarang mereka temukan.

“Wis wong kene wae yo,”

“Nang kene yo okeh cah wedok to,”

“Wong ndeso wae, gampang le nyrateni,”

 “Suk nek golek bojo, wong ndeso wae le,”

“Ora sah wong adoh, ndak kangelan nek bali,”

“Nek wong pesisir kangelan di mangan, kudu iwak,”

Paidi memperhatikan saja apa yang dikatakan biyungnya. Madsani juga hanya mendengarkan saja, mereka tidak memberikan komentar.  Mereka asyik dengan hidangan yang masih menyisakan kenikmatan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *