Home / DWIDJO / Api Cinta (123): Jurnalis harus Profesional

Api Cinta (123): Jurnalis harus Profesional

Paidi banyak mendapatkan undangan sebagai pembicara. Bagaimana seorang jurnalis harus menempatkan diri di medan juang. Di kompleks pelacuran tanpa terkecuali. Jurnalis harus  profesional.

Menjadikan narasumber sebagai bahan tulisan, tidak mencampur dengan opini dan perasaan penulisnya.  Semua ada batas-batas yang memisahkan secara tegas. Tugas jurnalistik harus dipisahkan dengan empati penulisnya. Berbahaya kalau penulisnya berempati kepada korban.

Penulis yang larut dalam penderitaan korban, tulisan yang dihasilkan tidak  objektif karena sudah bercampur dengan perasaan sang penulisnya.

Sedapat mungkin harus ada pemisah antara tulisan dengan perasaan. Berbeda dengan tulisan yang disajikan dalam bentuk laporan nonjurnalistik.  Karya jurnalistik memiliki bentuk yang khas, bahasanya mudah sehingga masyarakat dapat langsung mencerna. Bukan bahasa ilmiah yang terkadang memerlukan pikiran khusus.

“Bagaimana mendekati kepada dan narasumber,”

“Apakah melalui penyamaran untuk mendapat data,”

“Adakah empati bagian wawancara,”

Bayak pertanyaan diajukan ketika berlangsung diskusi, baik secara langsung maupun melalui siaran radio. Pembaca dan pendengar sama antusiasnya menanyakan berbagai sudut pandang. Ada pertanyaan yang jlimet, ada yang sederhana. Ada yang membutuhkan data dan fakta, ada juga yang sebatas menanyakan pengalaman apa yang diperoleh di kompleks pelacuran, selain bahan tulisan. Adakah cerita  di balik berita. Kalau beritanya sudah jelas yang tertulis di media, bagaimana dengan cerita di balik layar. Adakah yang lebih seru, atau biasa-biasa saja.

Paidi memperhatikan setiap pertanyaan, mencatat dan memberi garis tebal kepada setiap pertanyaan kritis yang ditujukan kepadanya. Jawaban yang pas sangat diperlukan untuk memberikan gambaran sesungguhnya yang terjadi di lokasi.

Paidi memberikan jawaban bersayap atas pertanyaan yang menggelitik. Namun jawaban atas pertanyaan lanjutan sudah disiapkan sehingga tidak terkesan kekurangan bahan perbincangan.  Paidi menghindari menjawab pertanyaan yang menjebak. Akan menjadikan diskusi tidak sehat, karena dasarnya untuk melakukan klarifikasi saja. Sangat boleh jadi orang iseng saja menanyakan permasalahan yang sesungguhnya sudah diketahui.

Ciblek Pemasok Sunan Kuning. Judul tulisan bersambung berikutnya.  Pembaca makin dibuat penasaran dengan tulisan bersambung yang menampilkan judul-judul menggelitik. Koran Pagi yang tirasnya besar mendapat laporan dari agen di tempat strategis untuk selalu menampilkan tulisan-tulisan sejenis.

Banyak pembeli dadakan yang membutuhkan koran edisi sebelumnya, meski edisi sekarang sudah muncul dengan laporan yang sama. Banyak orang penasaran dengan tulisan yang dibuat dan berupaya membaca dari sejak laporan perdana. Pembaca banyak yang merasa ketinggalan tidak membaca dari awal tulisan. Pembaca benar-bernar dibuat penasaran oleh redaksi dan penulisnya.

Dua pekan laporan bersambung mengupas fenomena Ciblek dan Sunan Kuning. Pembaca setia koran mengusulkan melalui surat pembaca, agar redaksi melakukan model tulisan yang sama. Kalau perlu penulisnya yang sama sehingga ada benang merah dengan tulisan sebelumnya. Ada pembaca yang mengusulkan, laporan khusus fenomena yang sama di sepanjang Pantura Jawa dari Anyer sampai Panarukan.

Napak tilas perjuangan para pekerja Rodi yang membuat jalan di era pemerintahan penjajah Belanda. Tulisan dapat disajikan bersambung selama berhari-hari, bahkan hasil tulisannya dapat dibukukan. Dapat juga dibuat lebih ringan dari laporan pandangan mata menjadi fiksi ilmiah. Tulisan dalam bentuk buku akan lebih terdokumentasi sehingga dapat menjadi bahan kajian dan referensi bagi  berbagai kalangan yang membutuhkan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *