Home / DWIDJO / Api Cinta (117): Selama Sepekan Paidi Menghilang

Api Cinta (117): Selama Sepekan Paidi Menghilang

Paidi punya rencana sendiri. Membuat tulisan di Koran Kampus. Menulis bersambung pengalaman berada di Simpang Lima, melakukan wawancara singkat dengan Ciblek. Paidi juga melakukan wawancara imajiner dengan pelacur di kompleks Sunan Kuning.

Selebihnya Paidi melakukan kajian pustaka tentang fenomena pelacuran di berbagai kawasan di kota metropolitan. Paidi mengumpulkan bahan tulisan, di perpustakaan kampus. Selain itu juga mencari referensi lain dan mencari-cari buku lama di toko buku yang menyediakan secara obral.

Paidi membuat konsep sebelum menuliskan secara rapi. Bahan-bahan dikumpulkan, ditambah wawancara singkat. Selanjutnya ditambahkan kajian berbagai literatur. Berlembar-lembar Paidi menuliskan konsepnya. Setelah selesai satu bagian tulisan dibaca ulang. Paidi mendiskusikan dengan beberapa teman sebelum menyerahkan ke redaksi Koran Kampus.

Ada koreksian dari seniornya. Terutama menyangkut wawancara imajiner dengan pihak-pihak yang menjadi narasumber. Selain itu Paidi mendapat saran untuk melakukan dengan kalangan ahli, pakar perkotaan, pakar sosiologi. Tidak ketinggalan ahli bidang kesehatan dan ahli tata kota. Semua hasil wawancara menjadi tawaran untuk perbaikan bagi para pembuat kebijakan.

Paidi bersungguh-sungguh mempersiapkan tulisan. Harapannya satu yakni untuk memberikan penjelasan secara gamlang. Bukan melakukan pembelaan lisan yang dapat dibantah dengan tuduhan-tuduhan baru. Tulisan mendalam dan menyoroti fenomena Ciblek dan pelacuran di kompleks Sunan Kuning.

Selama sepekan Paidi menghilang. Tidak ke kampus, juga tidak ke perpustakaan. Sedang saat shalat berjamaah di Masjid Kampus, juga tidak terlihat. Paidi benar-benar menghilang. Lagi-lagi berkembang isu, Paidi menghilang karena menanggung malu.  Paidi melarikan diri karena tidak tahan menghadapi permasalahan yang membelitnya.

Pekan kedua Paidi muncul di tengah keramaian. Membawa setumpuk bahan tulisan. Renananya bulat akan menyerahkan kepada sidang dewan redaksi Koran Kampus. Harapannya tulisannya dimuat bersambung sehingga setiap mahasiswa dapat membaca dan memahami keadaan sesungguhnya.

Bergegas Paidi ke kantor redaksi untuk menyerahkan naskah. Di ruang tunggu berpapasan dengan salah seorang anggota dewan redaksi. Seniornya di kampus dan mentornya ketika berlangsung latihan dasar kepemimpinan beberapa waktu lalu. Paidi dipersilahkan menunggu sebentar karena sidang dewan redaksi sedang berlangsung. Menjelang makan siang biasanya break untuk melanjutkan rapat usai makan siang.

“Selamat ya,” ucapnya pendak.

“Tulisanmu bagus,” lanjutnya.

“Nanti rapat sesi kedua, sesudah makan siang kamu presentarikan hasil tulisanmu di hadapan sidang dewan redaksi,” urainya panjang lebar.

Seorang senior menghampiri Paidi sambil mengulurkan tangan. Memberikan ucapan selamat sambil mengembangkan senyum lebar.  Sebuah tulisan yang dikatakan bagus, berasal dari kekecewaan menghadapi para mahasiswa yang melontarkan tuduhan tidak tepat. Sebuah pengalaman yang mengantarkan kepada perdebatan panjang civitas akademika.  Hasil perenungan panjang seorang anak manusia, diramu dan ditambah dengan wawancara sesaat serta kajian literatur. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *