Home / DWIDJO / Api Cinta (107): Paidi Ingat Perjuangan Bopo-biyung di Kampung

Api Cinta (107): Paidi Ingat Perjuangan Bopo-biyung di Kampung

Maria berkerudung, itu satu-satunya mahasiswa di kampus yang konsieten dengan sikap dan semangat. Ternyata Maria jebolan madrasah di kotanya. Tidak berlebihan bagi dirinya, namun tidak biasa di kampus yang sekuler.

Paidi sekali lagi menepis anganannya sendiri. Komitmen untuk segera menyelesaikan sekolah menjadi target utama. Sesudahnya baru memikirkan bagaimana mengenal perempuan, mendekati dan memperjuangkan untuk memperistri. Bukan berlama-lama menjadi pasangan yang malah mendatangkan berbagai penafsiran bagi siapa saja yang menyaksikan.

Paidi selalu mengingat perjuangan bapak biyungnya di kampung. Untuk memberikan kesempatan Paidi belajar, kedua orang tuanya harus berjuang. Selain berjuang dengan pikiran juga kesempatan. Kedua orang tuanya tidak sempat menyisihkan harta untuk keperluan diri dan masa depannya. Semua kemampuan dan daya upaya untuk menyelesaikan sekolah.

Pendidikan dalam pandangan kedua orang tua Paidi sebagai investasi masa depan. Harta benda boleh tidak punya, tapi pendidikan harus berada dalam genggamannya. Sebab dengan ilmu orang akan mampu memiliki harta. Sebaliknya dengan harta orang justru menjadi miskin karena sering menjadi ajang fitnah. Perebutan harta sering terjadi di antara sesama saudara.

Bukankah Brontoyudho Joyobinangun, perang besar dalam cerita wayang berawal dari perebutan kekuasaan dan harta benda. Ksatria Pandawa dan prajurit Kurawa bertanding sampai titik darah penghabisan memperebutkan kekuasaan Astina. Padahal keduanya bersaudara sepupu, kakek mereka satu. Hanya karena kepentingan sesaat dan kemulau harta, mereka melupakan semuanya. Persaudaraan menjadi hilang. Norma ditinggalkan dan tata krama diabaikan.

Harta, tahta dan wanita. Dalam filosofi masyarakat Jawa ketiganya menjadi satu kesatuan. Perjuangan manusia sejak berabad-abad hanya kepada tiga masalah dalam kehidupan. Ketiganya menjuadi  sumber energi, ketiganya sekaligus menjadi sumber malapetaka. Harta jelas menjadi prasyarat untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Untuk memenuhi kebutuhan badani. Harta untuk melangsungkan kehidupan.

Adapun tahta, kedudukan dan jabatan sering menjadi simbul saja. Sebab dengan tahta seseorang akan memiliki kekuasaan. Tahta memungkinkan pemiliknya memiliki kekuatan untuk menggerakkan menuju cita-cita dan harapan. Tahta dapat digunakan untuk membangun imperium. Melalui  tahta, pemiliknya dapat melakukan apa saja. Selain memiliki kekuatan, memiliki pengaruh dan dapat melakukan sekehendaknya.

Sedangkan wanita akan menyertai. Setelah ada harta dan tahta. Wanita akan menjadi pelengkap dari keduanya. Wanita dapat menjadi sumber inspirasi bagi pemegang harta dan tahta. Sebaliknya wanita dapat menjadi sumber malapetaka bagi pemilik harta dan tahta. Tinggal bagaimana mengelola ketiganya akan menjadi sumber kekuatan untuk membangun kehidupan bersama-sama.

Kerajaan di Jawa dapat menjadi kaca benggala. Menjadi cermin dalam kehidupan manusia di era berikutnya. Aoalagi di zaman serba maju dan modern. Kaca benggala menjadi penting untuk menjadi bahan kajian sejarah. Kajian mengenai kehidupan manusia yang bersumber dari kebijakasanaan. Jatuh bangun kerajaan di tanah Jawa silih berganti, dari yang sangat tradisional sampai yang paling canggih. Dari cara yang paling sederhana sampai penggunaan teknologi. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *