Home / DWIDJO / Api Cinta (106): Maria dalam Pandangan Paidi Manis

Api Cinta (106): Maria dalam Pandangan Paidi Manis

Kribo masih dalam pandangannya. Perempuan banyak tipenya. Ada perempuan yang hanya cocok sebagai teman seperjalanan. Ada perempuan yang dapat menjadi teman dalam suka ria. Ada juga perempuan yang hanya dapat diajak ke pesta saja.

Perempuan yang cocok menjadi istri, sosok yang lengkap. Dia bersedia menjadi teman, dapat diajak ke tempat pesta dan mau berdua dalam suka dan duka. Menjadi lengkaplah perempuan yang memenuhi kriteria seperti itu. Dan perempuan seperti itu sangat langka di kota metropolitan.

Kribo berfilosofi, perempuan yang berambut panjang akan cenderung setia kepada pasangannya. Sebab mereka dapat mengurus apa saja yang menjadi tanggung jawabnya. Jangankan tanggung jawab rumah tangga. Sedang untuk mengurus rambut panjangnya saja sudah membutuhkan waktu dan ketelitian untuk merawat.

“Bukan rambutnya,”

“Tapi semangatnya,”

“Perjuangan dan kesungguhannya,”

“Apa yang ada di dalam, pikirannya,”

“Hati yang di dalamnya, jauh lebih penting,”

Paidi berargumentasi tentang perempuan. Meskipun rambutnya pendek, perempuan dapat saja setia kepada pasangan. Berjuang untuk membangun rumah tangga dengan kesungguhan. Rambut bukan menjadi ukuran, apalagi hanya panjang dan pendeknya saja. Bagaimana mengetahui perempuan yang menutup auratnya. Tidak diketahui bentuk rambutnya. Panjang pendeknya, kribo atau tidak.

“Ya gak usah disebut kribonya,” karibnya protes dengan kalimat yang terakhir. Bukan mendiskreditkan kribo, tapi kenyataan. Kalau perempuan berambut kribo pasti tidak akan panjang rambutnya. Akan selalu melingkar dan berputar di sekitar kepala saja. Kapan akan mendapatkan perempuan kribo berambut panjang.

Pembicaraan tidak berkesudahan. Perdebatan menjadi tidak terarah. Ujungnya hanya mendatangkan pertengkaran di antara mereka. Satu yang pasti Paidi tetap dalam pendiriannya.  Paidi masih ingat janjinya kepada diri sendiri untuk menyelsesaikan sekolah secepatnya. Menyelesaikan sekolah berarti tidak memberikan perhatian lebih kepada masalah perempuan. Selain menyita waktu akan menghabiskan energi untuk mengurusnya. Urusan kampus bisa terbengkelai.

Selain itu menyelesaikan sekolah dan bekerja seperti pengharapan bapak biyungnya. Selalu terngiang di telinga. Paidi yang menjadi cucuking ajurit, menjadi pembuka jalan bagi siapa saja yang ada di belakangnya.  Sebagai mbarep laki-laki dari pembarep Madsani-Madanom, ada tanggung jawab yang besar untuk babat alas. Membuka jalan bagi khafilah yang akan melaju di kemudian hari.

Maria dalam pandangan Paidi manis. Sederhana, penampilannya bersahaja. Kulitnya hitam tapi bersih terawat. Bukan semua itu yang menjadi ketertarikan Paidi, melainkan sebagai aktivis. Pergerakan yang menjadikan kesibukan luar biasa, sebagai aktivis di Masjid Kampus, di Koran Kampus masih aktif berkesenian dan sebagai anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) sehingga lengkap menjadi sosok perempuan yang berwibawa.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *