Home / KANGBARNO / Yang Menarik dari Baksos Sahabat Ngopi & Sedulur NKS-1: Cerita Horor 

Yang Menarik dari Baksos Sahabat Ngopi & Sedulur NKS-1: Cerita Horor 

Hari Minggu lalu, suasana hati agak lain. Berbeda, karena ada yang tidak biasa. Saya menuliskan cerita ini, dengan agak haru-biru. Sebab, banyak sekali pelajaran, yang bisa diambil, dimaknai, diresapi untuk memperbaiki diri.

Ini tentang Bakti Sosial yang digagas Forum Sahabat Ngopi Kulon Progo dan Sedulur NKS. Kerja sosial kali ini agak berbeda, karena mengambil lokasi di Kulon Progo, sehingga harus dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama yang berurusan dengan Protokol Kesehatan di musim pandemi.

Kami para penggagas Sahabat Ngopi berangkat dari Jakarta, Sabtu sore. Saya dijemput Pak Mudal yang juga tinggal di seputaran Ciledug. Lalu, datang Mbah Yatno dari BSD. Bertiga berangkat, karena ada Om Heri dan Mbah Mulyadi yang akan bergabung. Jadi ada lima orang di dalam mobil. Cukup untuk tetap jaga jarak.

Oke. Mendekati gelap, Mbah Yatno, sudah menunggu tidak jauh dari sebuah mal di Ciledug. Kami jalan, tapi tiba-tiba saja, Mastomi menelepon dari Wates, nitip dibawakan STNK mobil yang ketinggalan. Ya ampun, Mastomi yang alumni STMN Wates itu, sepanjang jalan dari Jakarta ke Wates, tidak membawa STNK. Untung kami masih bisa ngampiri, membawanya.

Sudah. Jam tujuh malam, rombongan berangkat. Ya seperti itu jika Sahabat Ngopi (ini Forum Kreatif Perantau Kulon Progo yang sangat cair, hanya ditalikan oleh silaturahmi) membuat sesuatu: kadang ngelantur tapi terukur.

Semangat kami adalah gotong-royong. Jadi kebersamaan menjadi nyawa dalam menghidupi setiap kegiatan. Ya contohnya seperti itu tadi.

Saat kami berangkat, bukan hanya Mastomi yang sudah di Wates, tapi ada Pak Samsir yang berangkat duluan, membawa mobil gunung. Mobil kelas 4X4 itu sengaja disiapkan, karena Baksos akan naik-turun punggung Menoreh.

Oh iya, Pak Sumarjono yang merupakan Founder Sedulur NKS juga sudah sampai di Jogja untuk Minggu pagi bergabung dengan semua Sahabat Ngopi dan Sedulur NKS Kulon Progo.

Selesai mengambil titipan Mastomi, mobil berjalan santai. Kami memang tidak sedang dikejar apapun. Di sekitaran Pasar Rebo, bergabung Om Heri dan Mbahmul, jadi lengkap sudah rombongan kecil kami. Untungnya, mobil Pak Mudal jenis mobil keluarga yang cukup lega untuk saling menjaga jarak.

Saya duduk di depan, menemani Om Heri Rudi yang santai berkendara. Nyatanya, meski alon-alon, belum jam 12 malam, mobil sudah sudah keluar tol Brebes Timur. Kami memang sudah sepakat, kalau masih di bawah tengah malam, akan lewat jalur Purwokerto, tapi kalau sudah lewat tengah malam, akan bablas ke Semarang, baru keluar Bawen, masuk Magelang, dan ke Kulon Progo.

Jadi begitulah. Jalur yang diambil adalah Purwokerto yang ternyata tidak terlalu ramah. Sebab, jalanaan menjadi sangat lambat sebelum Prupuk, yang aspalnya hancur. Lagi-lagi beruntung, mobil Pak Mudal sangat tangguh menempuh jalan berlobang-lobang besar.

Melewati jebakan lubang di Prupuk, mobil leluasa ke arah Jogja. Lalu, tahu-tahu sudah masuk Mbuntu, dan kami sepakat (lagi) mengambil jalur selatan jadi mobil menikung ke Petanahan. Tapi tersendat di situ, karena jalannya juga remuk.

Jam sudah menyentuh angka dua. Jadi sudah dinihari, saat Herirudi tiba-tiba melambat. Ada kucing melintas. Warnanya abu-abu kesorot lampu mobil. Setelah membiarkan kucing itu menghilang, mobil berjalan lagi. Namun seperti mengulang adegan, karena mobil kembali lambat. Kali ini, ada kucing warna hitam yang menghalangi jalanan. Agak lama, kucing itu berlalu.

Deg-degan juga, karena muncul firasat tidak enak. Adakah dua kucing itu, memberi sebuah sasmita? Mobil kembali berjalan dengan laju yang lebih ramah. Tidak perlu injak pedal gas terlalu dalam. Om Heri seperti ingin lebih berhati-hati.

Tapi apa yang  terjadi? Kami memasuki daerah Mirit, Kebumen, Jawa Tengah. Mata saya mulai berat. Dan, terlelap. Di bangku tengah, Pak Mudal dan Mbah Yatno terdiam. Di jok paling belakang, Mbahmulyadi juga tidak bersuara.

Mendadak, saya bangun. Om Heri mengeluh. Ini bukan keluhan biasa, karena beraroma horror. Awalnya hanya bertanya pada Mbahmul. “Tidur mbah?” rupanya, Om Heri sudah sejak tadi mengirimkan pesan pendek ke ponsel Mbahmul tapi tidak ada respon.

Baru setelah itu, Heri Rudi Atmoko yang dikenal sebagai Wakil Bupati komunitas Kulon Progo di Jabodetabek (KPDJ) bercerita. Tubuhnya diserang merinding. Katanya, itu sudah terjadi sejak ada dua kucing melintas.

Tidak hanya merinding, tapi seperti tak mampu menginjak pedal gas, jadi mobil berjalan sangat lambat. Seolah membawa beban terlampau berat. Mbahmul menyaut bahwa ia tidak tidur. Saya tergeragap. Mbah Yanto dan Pak Mudal juga bangun.

Setelah sadar apa yang sedang terjadi, saya minta Mbah Mulyadi yang waskita untuk meminta makhluk lain yang nggendoli mobil kami, jangan menganggu. Alhamdulllah, setelah itu, semua normal lagi. Om Heri kembali berseri, karena sudah tidak merinding dan bisa ngegas lagi. Tapi kami sudah tidak bisa berhenti bercerita tentang horror yang baru saja menimpa. Saya baru ingat, Mirit memang bukan tempat sembarangan. Wingit.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Sesok, Ono Nyadran Agung Virtual

Perhelatan besar, Nyadran Agung yang biasa dilaksanakan beramai-ramai di Alun-alun Wates, sudah sejak tahun lalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *