Home / KANGBARNO / Sugeng Tindak Kagem Mas Danarto

Sugeng Tindak Kagem Mas Danarto

Selepas siang tadi, Mas Danarto dikebumikan. Di kampung halamannya, di Sragen, Jawa Tengah. Meninggal pada usia 77 tahun, kepergiannya tragis, karena hanya berselang satu hari setelah ditabrak motor saat menyeberang jalan di Ciputat.

Kini, satu lagi tokoh penting kesusastraan Indonesia, tiada. Dalam pergaulan sastra, Danarto adalah sastrawan yang karya-karnya tidak biasa. Bagi sebagian penikmat seni, tidak mudah dipahami, karena bergelimang surealisme. Ia juga seorang yang gandrung pada sufisme.

lahir di Sragen, 27 Juni 1940,  Danarto termasuk seniman yang dilahirkan di era kejayaan ASRI Jogjakarta. Ia termasuk mereka yang ikut besar bersama Sanggar Bambu. Setelah merasa cukup di Jogja, ia hijrah ke Jakarta dan mendirikan Sanggar Bambu Jakarta pada 1979.

Kesenimanan Danarto semakin menjadi-jadi setelah di Jakarta. Banyak karya dilahirkan, bukan hanya sastra tapi juga lukisan. Sepanjang menghidupkan Sanggar Bambu Jakarta, ia juga menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pergaulannya yang luas dengan seniman ternama, membawanya naik ke panggung internasional. Ia juga pernah melawat ke Asia dan Eropa Barat bersama Teater Sardono W Kusumo. Itu terjadi pada 1974.

Menulis puisi, melahirkan cerpen dan novel sufistik, kemudian melukis banyak tema berat, Danarto juga penata artistik handak. Selain bersama Sardono, ia juga pernah menangani pementasan yang dibuat Bengkel Teater Rendra. Misalnya saja saat si Burung Merak itu, mementaskan Oedipus.

Melahirkan banyak buku ‘berat’,  Danarto juga menulis buku tipis yang eksentrik. Judulnya, Orang Jawa Naik Haji. Buku itu merupakan kisah perjalanannya selama naik haji. Diterbitkan pada 1983, banyak perjalanan ibadah yang didekati secara Jawa.

Bagi dunia sastra, karya Danarto yang sering dibicarakan adalah kumpulan cerpen berjudul Godlob. Ditulis tahun 1975. Selain itu, karya-karya lain adalah BelGeduweh Beh (1976), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Berhala (1987), Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000).

Sepanjang karir saya sebagai jurnalis, banyak momentum bertemu pria ramah yang ,masuk seniman terpandang ini. Tapi ada satu kalimat yang tidak mungkin saya lupakan diucapkan Mas Kecuk, usai nonton sebuah teater.

“Kesenian tidak mesti dijlentreke, nikmati saja,” katanya dengan suara pelan-santun disambung senyuman seperti biasa menunjukan identivikasinya sebagai pria yang ramah.(kib)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *