Home / KANGBARNO / Singgah ke Samigaluh, Didapuk Main Ketoprak
Anggar B Nuraini ikut bermain ketoprak di Sanggar Budaya Mahening Budhi

Singgah ke Samigaluh, Didapuk Main Ketoprak

Ini momentum mengharukan. Pada tanggal 3 Agustus 2019 saya pulang ke Sanggar Budaya Mahening Budhi. Main ketoprak di tengah udara dingin Dukuh Kedung Gupit, Kelurahan Kebon Harjo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo.

Sudah sejak sampai di Jogja, di tengah siang, keharuan hinggap di hati. Hari itu, saya akan ikut nguri-uri kabudayan. Jadilah, sebelum siang hilang, saya bergegas ke Sanggar Budaya Mahening Budhi di pucuk gunung di Samigaluh.

Saya memang harus berkejaran dengan sore, karena pada malam itu, malam Minggu tanggal 3 Agustus 2019, kami akan mementaskan ketoprak di Mahening Budhi.

Sanggar Budaya Mahening Budhi adalah padepokan yang sengaja saya dan beberapa sahabat bangun untuk ikut nguri-uri kabudayan Jawi. Terutama untuk memompa minat warga dan anak sekolah sekitar Samigaluh belajar pedalangan dan karawitan.

Niat mendirikan sanggar adalah dorongan tanggung jawab sebagai orang yang mengaku orang Jawa. Sedih rasanya kalau suatu saat nanti tak ada satupun orang Jawa yang paham atau mengenal budaya leluhurnya.

Saya membayangkan ironi yang mengenaskam ketika ada pertunjukan wayang atau ketoprak, yang menjadi niyogo dan sindennya adalah wajah-wajah bule. Yaa, mereka, orang-orang asing itu, justru lebih antusias belajar karawitan dan sinden daripada orang Jawa. Kemungkinan tragis itulah yang sedang saya hapus dengan membuat sanggar.

Setelah menyusuri jalan berkelok selama lebih satu setengah jam, akhirnya sampai juga di Sanggar Mahening Budhi. Suasana ayem sudah langsung terasa.

Terlihat beberapa penabuh gamelan sedang berlatih untuk persiapan pementasan nanti malam. Teriknya matahari seolah kalah oleh tiupan angin bulan Agustus. Alunan gamelan yang mendayu membawa kedamaian jiwa. Ah, mendengar suara gambang yang mengambang bertemu siter yang ritmik, membuat mata semakin berat. Mengajak istirahat siang sebelum pentas nanti malam.

Para pemain ketoprak mulai berdatangan jam tujuh malam untuk persiapan pentas. Saya kagum dengan kehebatan mereka karena dari make up sampai berbusana, semuanya dikerjakan sendiri dengan perlengkapan seadanya di balik panggung.

Mereka saling membantu berdandan dan memakai kain, sambil guyon yang membawa suasana terasa guyub dan menyejukkan.

Pukul 20.30 pengunjung mulai memenuhi halaman saat Tarian Serimpi dari anak anak sekolah sekitar Samigaluh dimainkan. Selanjutnya setelah sambutan dari pak Lurah dan tuan rumah sanggar, pak Heroe Soelistiawan, ketoprak dimulai.

Lakonnya Racun Tondo Tresno atau Racun Tanda Cinta. Ketoprak dengan judul kekinian yang mengisahkan seorang primadona Bernama Endang Mustika Sari. Ia cantik mempesona, dicintai oleh banyak pria, termasuk Adipati Barat Wojo yang wuyung setengah mati.

Pada babak pertama, saat pasewakan di Kadipaten Barat Wojo, saya, Pak Heroe, dan bu Ditta diminta ikut tampil di atas panggung. Dapukan atau perannya, sebagai saudara Adipati Barat Wojo.

Tanpa persiapan apa-apa, saya hanya membawa modal berani dan nekat. Karena cerita ketoprak menggunakan bahasa Jawa kromo inggil, butuh improvisasi untuk bisa ikut memberi warna pertunjukan. Tapi justru karena banyak tidak paham cara bermain ketoprak, malah memberi situasi komedi.

Untungnya sang adipati dapat membaca kesulitan saya, termasuk untuk duduk simpuh dalam waktu lama, sehingga diberikan peran untuk segera masuk dan tidak perlu lama tampil.

Hem…meskipun hanya tampil sebentar namun cukup mengesankan karena bisa menjadi bagian menjaga budaya Jawa.

Ketoprak berlangsung seru. Masyarakat juga tetap setia menonton meskipun hanya beratap langit cerah, berteman cerah berbintang disertai terpaan hawa dingin 18 derajat.

Akhirnya pertunjukan usai pukul 01.30 dinihari. Dikisahkan, Endang Mustika Sari bunuh diri, diikuti Sidarto, kekasih yang sangat mencintainya. Saking tresnanya pada Endang, Sidarto ikut meminum racun.

Tapi ternyata racun yang mereka minum bukan racun beneran melainkan obat tidur, sekadar untuk menguji cinta Sidarto, sehingga Romo dari sang Primadona memilih pria itu sebagai menantu.

Akhir bahagia tidak hanya terjadi di atas panggung. Sebab, saya juga diliputu kebahagiaan mendalam bagi merancang pertunjukkan yang menyenangkan ini. Seluruh pemain dari penari Serimpi, pemain ketoprak, hingga para niyogo ikut pula bahagia meski semuanya memberikan partisipasi dengan tulus ikhlas tanpa bayaran.

Pagi harinya, sebelum meninggalkan Samigaluh, sanggar kedatangan ibu Kepala Sekolah Dasar Balong II yang memohon agar anak-anak didiknya bisa belajar kesenian di sanggar Mahening Budhi.

Tentu permintaan itu saya sambut dengan tangan terbuka. Semoga beberapa tahun lagi akan muncul dalang muda atau para niyogo muda yang akan meneruskan budaya warisan leluhur.(*)

About redaksi

Check Also

Jalan Kaki ke Stasiun Sentral Frankfrurt Seperti ke Stasiun Wates

Sampai di Bandara Frankfrurt, yang pertama saya lakukan adalah menghirup udara sebanyak yang bisa saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *