Home / Uncategorized / Ritual Adat Jawa Mulai Lahir hingga Mati-8: Midodareni

Ritual Adat Jawa Mulai Lahir hingga Mati-8: Midodareni

Fase-fase upacara adat pernikahan Jawa, memang serba njlimet. Ini yang membuat, bahkan orang-orang di tltah Jawa, mulai meninggalkan hampir semua ritual itu. Pernikahan, kemudian hanya diambil serba gampang dan cekak-aos: akad dan panggih.

Upacara pernikahan Jawa yang agak lengkap, kini hanya menjadi milik orang-orang kaya, pejabat, dan selebriti. Mereka, dengan dana sangat besar, mampu menyelengarakan seluruh rangkaian upacara, meski tidak jarang lebih beraroma pamer demi status sosial. Sebab, semua upacara hanya seperti pameran yang ditinggalkan makna-maknawi.

Semestinya, setelah tarup dan pasang bleketep, khusus untuk calon mempelai ada ritual siraman. Ini, sehari sebelum tanggal akad nikah. Siraman dilakukan oleh para tetua, pinisepuh, sesepuh, dan mereka yang dituakan. Syaratnya, harus yang sudah pernah mantu. Diutamakan sudah pernah mantu dan menjadi orang sukses.

Air untuk siraman diambil dari tujuh sendang atau tujuh sumur utama di sekitar rumahnya. Para orang tua, terutama ibu-ibu dan simbah-simbah putri, akan mengucapkan doa-doa keselaatan bagi mempelai. Selamat menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri.

Siraman selesai. Lalu, para ibu dahar bersama. Menu yang disajji adalah sekul dan sayur tumpeng. Ini adalah olahan taoge rebus, kol dan kacang panjang, ditambah bumbu yang dibuat adonan tempe dan tempe busuk  yang ditumbuk, diulek diberi santen bercampur salam-jeruk purut-laos.

Malam setelah mempelai wanita disesuci dalam prosesi siraman, digelar midodareni. Ini merupakan simbol bahwa calon pengantin sudah tampil cantik lahir-batin, setelah bersesuci, bagai widodari tumurun.

Malam midodareni seperti menjadi malam perpisahan mempelai dengan keluarga, sahabat, dan tetangga. Sebab esok hari, ia sudah memulai hidup baru dengan membangun rumah tangga sendiri. Pada malam midodareni inilah, pertemuan terakhir diisi percakapan-percakapan beraroma nostaliga. Sementara itu, kaum pria akan menggelar tikar, bersila, lek-lekan, biasanya sambil seru-seruan main kartu. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Mbak Estu Saestu Bingah, Kepanggih Pak Bupati

Tanggal 1 Syawal kolo wingi, dados dinden paling penting kange masyarakat Kulon Progo. Ugi kagem …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *